Dalam realitas kita menemukan ada saja kendala untuk merealisasikan suatu kegembiraan dalam bekerja. Kendala utama ialah ketidakrelaan manusia untuk menerima pekerjaan yang dipercayakan Allah kepadanya. Allah memberikan talenta dan bakat yang berbeda pada setiap pribadi, namun manusia selalu cenderung menolak apa yang diberikan kepadanya. Sebaliknya, manusia malah iri hati pada apa yang dimiliki orang lain, mengerjakan apa yang bukan pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Bulan lalu saya baru saja mendengar sebuah kisah dari seorang rekan sekantor. Suatu hari, seorang wanita muda dengan paras yang lumayan cantik bekerja pada sebuah rental laser-disc di Malang. Dengan persaingan bisnis yang cukup ketat dewasa ini, ia ditugaskan kantor untuk melayani pelanggan door to door. Dalam pembicaraan sebelum ia meninggalkan rumah, barulah diketahui bahwa ternyata ia seorang sarjana hukum, yang sudah 2½ tahun menyandang gelar tetapi tidak mendapatkan pekerjaan. Dari setiap compact-disc yang disewa orang, ia hanya mendapatkan Rp500,00. Coba kita menempatkan diri pada posisi wanita ini, apakah kita mampu untuk bergembira dalam pekerjaan tersebut? Saya tidak bermaksud untuk mendiskusikan salah siapa, baik itu kondisi maupun lingkungan, atau alasannya untuk terpaksa melakukan pekerjaan ini demi sesuap nasi. Andaikata durasi pekerjaan tersebut hanya bersifat sementara untuk menimba pengalaman saja, mungkin oke-oke saja! Namun, saya percaya, secara normal kita tidak akan pernah bisa bahagia bila terus menggeluti pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahlian studi yang sudah kita dapatkan.
— Khotbah Topikal —
Etos Kerja Orang Kristen
March 2, 2018
thanks for sharing this information..