Amsal mengamati bahwa hati hanya bisa berperan sampai pada keinginan dan tidak ada tindak lanjutnya. Hati hanya sampai taraf mempunyai banyak keinginan saja yang kemudian diteruskan kepada pikiran. Melalui pikiran, keinginan itu akan berlanjut dalam tindakan dan tingkah laku. Bagaimana dengan hati orang yang penuh keinginan tetapi sia-sia tanpa hasil? Orang yang demikian hanya berkhayal, membayangkan hal-hal besar, berimajinasi spektakuler … tetapi hanya berhenti dalam keinginan hati, yang dibantu dan dikembangkan oleh pikiran, bukan dalam tindakan konkret melainkan dalam alam khayal. Bagi Amsal, mereka termasuk kategori “pemalas”. Hati si pemalas hanya mempunyai keinginan tanpa tindakan! Hasil yang diperoleh si pemalas adalah kesia-siaan karena tidak menghasilkan apa pun. Tidak ada tindak lanjut yang dikerjakan dan diolah pikiran, sehingga terwujud dalam tindakan, maka hasilnya adalah sia-sia. Hati orang rajin juga sama-sama mempunyai keinginan, bahkan mimpi besar. Namun, yang membedakan dengan pemalas adalah keinginan itu diteruskan kepada pikiran. Pikiran mengolah dengan baik, mengkritisi mana yang benar dan tidak, mana yang bisa dan tidak bisa dikerjakan, mana yang sesuai dengan pimpinan dan kehendak Tuhan. Setelah dipikirkan dengan baik, keinginan itu dilakukan dengan sikap takut akan Tuhan, maka ia akan memperoleh kelimpahan! Milikilah hati orang rajin demi kemuliaan-Nya. Amin.
Hati Pemalas
September 10, 2018