Yang menjadi persoalan, bagaimana orang bisa memiliki sikap hati yang demikian keras? Itulah uniknya manusia! Manusia mempunyai hati dan pikiran yang bisa menyatu dengan kehendak, kemauan, kebutuhan, dan kepentingan diri sendiri. Begitu ia teguh memegang pendapatnya, tak seorang pun bisa mengubahnya, selain dirinya sendiri.
Bagaimana bisa demikian? Ternyata hal itu bisa disebabkan oleh pengalaman-pengalaman hidup pribadi yang membentuk seseorang dari kecil sampai dewasa. Pengalaman pertama tentunya setelah ia lahir. Sejak lahir ia belajar dari sikap hidup orangtuanya, entah keras, lemah lembut, teratur, berantakan, disiplin, acuh tak acuh, penuh kasih sayang, tiap hari bertengkar, hidup egois, atau terbiasa saling gotong-royong, dan sebagainya. Sejak kecil dan belum mengerti apa-apa, ia sudah mampu merekam apa yang terjadi di sekitarnya. Kemudian, ia bersekolah mulai dari kelompok bermain sampai lulus perguruan tinggi, atau jika ada kesempatan, sampai mencapai gelar pascasarjana. Pengalaman-pengalaman pendidikan ini sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap hati dan pikirannya. Pengalaman yang lain ialah ketika ia bergaul dengan masyarakat. Ada banyak kejadian yang pasti membentuk kepribadiannya.