Khotbah Perjanjian Baru

Kasih di Tengah Penderitaan

Dari kata-kata Yesus, kita akan mendapati betapa Yesus memerhatikan orang lain. Pilihan kata-Nya menunjukkan Dia melindungi ibu biologis-Nya. Ketika Dia menyerahkan Maria kepada Yohanes, Yesus berkata, “Ibu, inilah, anakmu!” Kata ibu yang dipakai-Nya itu sebenarnya berasal dari kata gunai, yang secara harfiah berarti wanita atau perempuan, bukan ibu dalam pengertian orangtua wanita. Sapaan yang biasa pada waktu itu. Mengapa Yesus menyebut ibu biologis-Nya gunai? Itu demi keselamatan ibunya, bukan? Yesus adalah terpidana mati yang sedang dieksekusi, dan tentara mengepung di sekitarnya. Jika para tentara mendengar Yesus menyebut seseorang sebagai ibunya di situ, tidakkah Maria akan berada dalam bahaya besar? Murid-murid Yesus pun berdiri dari jarak jauh karena takut.

Keluar dari Keegoisan, Berbagi Kepedulian

Mengapa di dalam penderitaan-Nya Yesus masih dapat memikirkan orang lain dan bukan hanya diri-Nya sendiri? Kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan ini ketika kita menengok ke belakang menuju episode kehidupan Yesus. Sehari sebelumnya, setelah melewati pergumulan yang begitu berat di Getsemani, pada akhirnya Dia berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Nah, inilah kuncinya. Yesus memandang penderitaan itu tidak terlepas dari kehendak bapa-Nya. Kehendak Bapa bukan berarti Bapa tertawa-tawa di atas penderitaan Yesus. Kehendak Bapa berarti apa yang diizinkan Bapa untuk terjadi. Penderitaan itu bukanlah tanda ketidakhadiran Tuhan. Yesus menghayati betapa di dalam penderitaan-Nya sekalipun ada kehendak Tuhan di dalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *