Leland Wang mengatakan bahwa sejak saat itu hingga ia tumbuh dewasa, memori peristiwa itu telah menolongnya untuk memahami kasih Tuhan Yesus Kristus yang besar dan agung itu yang dengan rela mati di atas salib, menjadi substitusi, mengambil posisi kita yang seharusnya dihukum oleh dosa-dosa kita.
Anda boleh berkata bahwa kematian Tuhan Yesus adalah suatu contoh “self-sacrifice” yang terbesar. Saya melihatnya sebagai hal yang lebih dari sekadar self-sacrifice itu. Katakanlah kematian-Nya merupakan suatu wujud dari ketaatan mutlak dan juga mengherankan atas tuntutan kehendak Allah Bapa, saya tetap melihat hal itu sebagai hal yang lebih dari sekadar suatu ketaatan mutlak. Katakanlah bahwa melalui kematian-Nya, Tuhan Yesus telah menanggung segenap beban dosa umat manusia, bahkan meniadakan dosa-dosa manusia, saya tetap melihat hal itu sebagai lebih dari sekadar digenapinya karya penebusan dosa bagi saya. Saya sudah melihat hal-hal itu dan bahkan saya sudah mendapatkan pengharapan terbesar di atas kayu salib Yesus itu. Di balik itu semuanya, janganlah mengatakan kepada saya bahwa inilah makna keseluruhan yang ada pada salib Kristus itu. Tidak! Kematian Tuhan Yesus, Penebus kita, jauh lebih besar dan lebih banyak dari apa yang tersebut di atas. Allah telah meliputi salib itu dalam kegelapan pekat seketika itu, dan hal itu mengandung makna yang dalam, bukan disebabkan Allah tidak mengungkapkannya kepada kita, tetapi sebab kita tidak mempunyai kapasitas yang cukup untuk memahami-Nya sama sekali. Allah memanifestasikan Diri-Nya dalam daging, dan di dalam tubuh kedagingan-Nya itu Dia menyingkirkan dosa umat manusia melalui pengorbanan diri-Nya sendiri. Anda dan saya sudah tahu akan hal ini. Tetapi menerima karya salib ini dengan “tanpa kontroversi apa pun tak lain merupakan suatu misteri kesalehan”.