Aduh sayang… kalau di dalam hidup ini Saudara hanya ingin mengisap madu dari mawar. Menikmati keindahan mawar saja dan tidak mau durinya berarti hanya ingin menikmati sisi lembut yang Tuhan tawarkan. Ini berbahaya. Mengapa? Kita akan menjadi mudah putus asa menjalani hidup ini. Kita akan dengan mudah memprotes Tuhan. “Mana Tuhan, bunganya? Mana Tuhan, berkatnya? Aku kok mengalami penderitaan….” Kita menjadi kecewa, Saudara. Kita ndak siap menghadapi hidup ini. Kalau seandainya gereja juga menawarkan hanya berkat-berkat jasmani saja… pasti juga akan membahayakan kehidupan jemaat. Aduh sayang…
Yang kedua, Saudara. Ada juga orang yang dalam hidup ini memiliki prinsip ingin “durinya” saja, tanpa mawarnya.
Ada, lho, Saudara… orang yang menginginkan duri saja tanpa bunganya. Fokus hidupnya cuma penderitaan saja. Kesana-kemari hanya mengeluh, “Aku mengalami banyak pesoalan… Aku bangkrut… Aku sakit… Aku mengalami situasi yang ndak enak… Aku baru dimarahi… Aku menyesal karena hidup ini hanya duri saja, tanpa pernah ada bunganya.” Saudara… ini pun ndak sehat. Karena apa? Lagu Mawar Berduri yang dinyanyikan Broery, yang sama-sama kita dengar tadi sudah mengingatkan; kalau hidup ini terdiri dari duri saja… banyak kumbang yang apa, Saudara? Iya…. mati karena tertusuk duri. Aduh sayang. Sayang banget, Saudara kalau dalam hidup ini kita hanya menikmati duri-duri saja yang menancap di dalam hidup kita tanpa pernah menikmati bunganya. Hidup yang seperti ini jelas tidak seimbang. Ya, aduh sayang…