Khotbah Perjanjian Baru

On Dedication

Mari sekarang saya ajak Saudara berpikir sejenak mengenai respons si anak kecil ketika murid-murid Tuhan Yesus meminta lima roti dan dua ikan dari padanya. Sebenarnya ada lima kemungkinan jawaban yang bisa diberikan oleh anak kecil tersebut. Pertama, si anak kecil itu bisa mengatakan, “Tidak. Tidak boleh. Saya sendiri masih butuh makanan, kok!” Dia menolak memberikan lima roti dan dua ikan itu karena dia merasa dirinya masih sangat butuh. Saudara, ada tidak orang yang memberi tanggapan seperti ini ketika dia diminta melayani? Ada! Kemungkinan kedua, “Jangan. Roti dan ikan ini akan saya pakai makan bersama teman-teman dan saudara-saudaraku. Kami sudah janjian.” Anak kecil itu menolak memberikan lima roti dan dua ikan karena lima roti dan dua ikan tersebut akan dia bagi-bagi. Ada atau tidak, Saudara, orang yang menjawab seperti itu ketika diminta melayani? “Jangan sekarang lah, Tuhan. Ini untuk keluargaku dulu. Nanti saja kalau ada sisa-sisa.” Ada orang seperti ini, Saudara? Ada. Kemungkinan ketiga, si anak itu mengatakan, “Siapa yang berani membeli dengan harga tinggi, silakan ambil roti dan ikan yang saya punya.” Si anak kecil jual mahal, Saudara. Dia merasa memiliki sesuatu yang sangat berharga dan dibutuhkan lalu dia jual mahal. Saya banyak menemukan anak-anak Tuhan seperti ini, Saudara. Dia jual mahal di hadapan Tuhan. Dia maunya dibayar mahal untuk pelayanannya karena dia merasa memiliki pendidikan tinggi, misalnya. “Kalau gereja mau pakai saya, gereja berani bayar berapa?” Gitu, Saudara. Ada lagi kemungkinan lain, Saudara. Kemungkinan keempat. Si anak kecil itu bersikap seperti ini, “Lima roti dan dua ikan tidak mungkin cukup untuk memberi makan lima ribu orang. Saya makan sendiri saja. Nanti kalau sisa, tinggal saya buang.” Sikap ini menggambarkan orang yang membuang-buang talenta yang diberikan Tuhan; bukan untuk Tuhan tetapi untuk dunia ini. Kemungkinan kelima, ini agak lumayan, Saudara… anak kecil itu mengatakan, “Okay-lah, silakan ambil satu ikan supaya yang satunya untuk saya. Silakan ambil tiga roti, yang dua untuk saya.” Si anak kecil mengambil sikap bagi-bagi: sebagian untuk Tuhan, sebagian untuk dirinya. Apakah ada orang yang bersikap seperti ini ketika dia diminta melayani, Saudara? Ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *