Dari perikop ini, kita belajar bahwa Allah tidak selalu menyingkirkan penderitaan dari kita, tapi juga mengizinkan penderitaan hadir untuk membentuk karakter kita untuk makin serupa Kristus, dan memberikan wujud penyertaan untuk menemani perjalanan kita.
Gereja adalah tubuh Kristus yang beragam, dan kita “dipaksa” untuk belajar satu sama lain. Philip Yancey pernah mengatakan soal gereja sebagai wadah di mana kita akan bertemu orang yang berbeda, bahkan mungkin tidak cocok dengan kita. Kadang kita pun memang Tuhan izinkan untuk “digigit ular tedung”, tapi Tuhan anugerahkan “ular tembaga” untuk menguatkan kita menghadapi “ular tedung”.