Kedua, dengan menyembuhkan penyakit kita (ayat 24b)
Luka-luka Kristus adalah anugerah Allah yang memulihkan. Paradoks ini sungguh-sungguh menakjubkan hati kita. Kristus terluka supaya kita sembuh. Ia mati supaya kita hidup. Kita mati bersama Dia, dan dengan demikian kita “mati bagi dosa” sehingga kita “hidup untuk kebenaran.” Paul David Tripp dengan apik membahasakan demikian: “Tuhan itu kudus, jadi dosa itu serius. Tuhan itu pemurah, jadi dosa bisa diampuni. Di kayu salib, kekudusan dan kasih karunia-Nya berciuman.” Berbeda dengan ciuman Yudas yang mematikan. Inilah ciuman mesra Kristus dari kayu salib yang menghidupkan, yang menyembuhkan, dan yang memulihkan.