Susahnya adalah ketika satu cara pikir dan cara hidup sudah nempel dengan identitas, kita gak merasa kenapa2 – seperti eksperimen atas 5 monyet tadi.
Lama kelamaan distinctiveness kita sebagai orang Kristen kurang nampak di tengah marketplace. Karena tidak nampak perbedaan, apa yang bisa menarik orang-orang yang belum kenal Kristus?
Tentu meritokrasi hanyalah salah satu. Hal lain mungkin kuatir hari depan, mengamankan masa depan, itu juga bagian dari identitas yang sudah membudaya di Singapura. Mulai dari ngantri daftar anak sekolah, sampai beli asuransi untuk tutup semua celah resiko biaya hidup. Semua lini hidup kita dipengaruhi oleh konteks marketplace Singapura. Makanya kita tidak bisa melimitasi istilah marketplace hanya dalam konteks bekerja di kantoran. Waktu kita pergi ke pasar, supermarket, ngantar/jemput anak sekolah, waktu jadi volunteer di sekolah, terlibat dalam community council, lagi break makan siang, naik public transport, lagi di gym, sport hall, dll – itu semua adalah marketplace. Mengapa kita jangan melimitnya? Karena kisah kesaksian Paulus, marketplace bukanlah dalam artian konteks orang-orang kerja/dagang. Coba perhatikan ayat 15-16a. Paulus bisa ada di Atena karena ia diungsikan oleh komunitas Yahudi kota Berea yang menerima pengajaran Paulus tentang Kristus. Namun banyak orang Yahudi dari kota Tesalonika yang sengaja datang ke Berea untuk nyusahin Paulus. Perhatikan Kis.17:11-12. Komunitas ini tidak mau ambil risiko Paulus dicelakai oleh mereka yang dari Tesalonika. Paulus diantar ke pelabuhan lalu ditemani sampai ke Atena. Di Atena, Paulus tidak punya rencana pelayanan, tetapi nungguin Silas dan Timotius – ayat 15-16a.