1. Karena penantian kita bukanlah penantian yang sia-sia. Itu adalah sesuatu yang riil dan pasti terjadi.
Penjelasan
Saudara-saudara, salah besar bila ada seorang berpikir bahwa dengan menjadi anak Tuhan hidupnya akan jauh dari penderitaan, kekurangan, dan penolakan. Di ayat 17, bagian sebelum perikop yang kita baca, Paulus berkata dengan jelas bahwa anak-anak Allah akan mewarisi kemuliaan Kristus di masa yang akan datang jika mereka menderita bersama-sama dengan Dia pada masa sekarang. Itu artinya bahwa di dalam dunia, anak-anak Tuhan tidak luput daripenderitaan.
Saudara, pembagian dua masa yang dilakukan Paulus identik dengan sistem pembagian masa dalam pemikiran apokaliptik Yahudi. Ada dua masa penting dalam pemikiran Apokaliptik Yahudi, yakni sekarang dan masa yang akan datang. Apokaliptik biasanya lahir oleh karena adanya masa yang begitu berat, dimana orang Yahudi mengalami penindasan dan perbudakan dari bangsa lain, yang memunculkan suatu harapan akan hadirnya bumi dan dunia yang baru dimana mereka dibebaskan dari perbudakan dan penderitaan. Paulus mengadopsi konsep ini untuk menggambarkan keberadaan dunia yang menderita dalam ayat 19-22.
Dikatakan bahwa masa sekarang seluruh makhluk (ktisis) telah ditaklukkan kepada kesia-siaan dan hidup dalam perbudakan kebinasaan. Mereka mengeluh seperti wanita bersalin dan menderita dalam masa penantiannya. Sementara masa yang akan datang adalah masa pembebasan, yakni saat anak-anak Allah dinyatakan.
Hal ini direlasikan dengan kehidupan orang percaya dalam ayat 23-24, dimana di masa sekarang anak-anak Allah juga mengeluh dalam hati mereka sambil menantikan masa yang akan datang, yakni saat dimana mereka dibebaskan dari tubuh yang fana dan dimuliakan bersama-sama Kristus. Karena di dalam tubuh, mereka berjuang melawan tabiat jahat yang bertentangan dengan Roh Allah yang mendiami hati mereka dan diluar mereka menghadapi dunia yang tidak mau tunduk kepada kebenaran Tuhan. Ketika mereka menjalankan kebenaran, menjungkirbalikkan nilai-nilai dunia, maka hal yang sangat mungkin untuk mereka alami adalah penolakan, dimusuhi, dan dibenci dunia. Di dalam dunia, mereka mungkin akan mengalami penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya atau pedang. Bukankah Yesus pernah berkata di Yoh. 15:19: “Kamu akan dibenci karena Aku”. Di dalam masa penantiannya orang percaya akan menderita.
Paulus punya kesaksian akan hal ini dalam 2 Korintus 11:23-27. Ia lebih banyak berjerih lelah, lebih sering di dalam penjara, menanggung pukulan di luar batas, kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali ia menanggung pukulan oleh orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali menderita pukulan, satu kali dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalanan ia sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi. Bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Ia banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali tidak tidur; lapar dan dahaga; kerap kali berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian. Suatu perjalanan hidup yang tak mudah dan terkadang membuat hamba Tuhan undur dari pelayanannya. Tetapi tidak bagi Paulus. Ia tetap bertahan. Mengapa Saudara? Karena padanya ada pengharapan bahwa saatnya akan datang. Dalam Roma 5:5 Paulus katakan bahwa pengharapan orang percaya bukanlah pengharapan yang mengecewakan. Bagi Paulus pengharapan akan kedatangan Kristus adalah sesuatu yang konkrit, riil, dan setiap saat bisa terjadi. Itu bukan penantian yang sia-sia. Karena itu di ayat 25 ia berkata kepada jemaat Roma yang sedang mengalami penderitaan karena imannya: “bertekunlah.”