2. Karena ada Roh Allah yang turut bekerja di dalam kita.
Penjelasan
Di dalam ayat 23-25 paulus menyampaikan 3 hal yang menyertai hidup orang percaya, yakni penderitaan, pengharapan, dan Roh Kudus. Adanya penderitaan tanpa pengharapan mustahil orang bisa bertahan. Tetapi adanya pengharapan juga tak cukup untuk menjadi alasan untuk seseorang bisa bertahan. Setiap orang percaya membutuhkan Roh Tuhan. Oleh karena itu Allah mengaruniakan Roh-Nya kepada setiap orang percaya untuk dapat bertahan dalam masa penantian. Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban, bukan roh ketakutan. Roh yang memimpin orang percaya melewati banyak hal dalam kehidupannya, melakukan apa yang tidak mampu dilakukan orang percaya. Roh yang tahu jawaban dari setiap pergumulan anak-anak-Nya dan Ia menolong orang percaya dalam kelemahannya, membawa mereka mengerti apa yang menjadi kehendak Allah dalam hidupnya.
Allah tidak membiarkan anak-anakNya bergumul sendirian. Hal ini jelas disampaikan Paulus dalam ayat 28, bagi orang-orang yang mengasihi-Nya, Ia ada dan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Kebaikan yang tidak mengacu kepada kenikmatan atau kenyamanan duniawi, tetapi kesesuaian dengan Kristus. Artinya melalui penderitaan demi penderitaan yang Tuhan izinkan terjadi, Allah ingin kita semakin serupa dengan gambar anak-Nya, dan memuliakan-Nya.
Saudara, sebelum Paulus menulis surat ini di Korintus, di dalam perjalanan misinya yang kedua sebelum tiba di Korintus dia mengalami berbagai penderitaan. Di Filipi dia ditangkap dan dipenjarakan (Kis. 16:13-40). Di Tesalonika dan Berea dia hampir ditangkap (Kis. 17: 1-15). Lari ke Atena ia ditolak. Masuk ke Korintus ia dimusuhi dan dihujat. Paulus mengalami ketakutan dan keputus-asaan, namun tidak menyerah dan tetap bertahan dalam penderitaan. Ia tetap bertekun dalam semuanya itu. Dalam 2 Tim. 1:12 ia berkata: “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” Saudara-saudara, Paulus sadar bahwa di dalam pergumulannya menghadapi penderitaan ada Roh Allah yang senantiasa bekerja. Roh yang ia percaya mampu melakukan apa yang tidak mampu ia lakukan. Inilah yang mendorong Paulus tetap bertekun dalam masa penantian meski hidup sarat dengan penderitaan, karena ia percaya ada Roh Allah yang turut bekerja.
Saudara-saudara, bukankah Yesus juga memberikan teladan bagi setiap kita. Ia tahu apa yang harus dialami-Nya di dalam dunia. Ia yang mulia tidak bertanggung jawab terhadap dosa setiap kita. Namun Ia yang kudus rela datang ke dalam dunia yang penuh dengan kenajisan. Ia hidup dengan manusia yang cemar, ditolak, dihina, dianiaya. Ia ditinggal oleh murid-muridNya saat Ia harus berjalan menyusuri via dolorosa. Tetapi bukankah Ia yang berkata kepada murid-murid-Nya dalam Yoh. 16:32: Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.” Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Ku. Di taman Getsemani Ia bergumul dengan cucuran keringat menyerupai darah. Namun setelah itu Ia tetap tekun melewati Via Dolorosa yang penuh dengan penderitaan. Yesus tahu siapa yang menyertai Dia dan Ia percaya BapaNya yang disorga berkuasa melakukan apa saja seturut kehendakNya. Ia tahu bahwa itu jalan bagi Dia untuk memuliakan Bapa-Nya.
Ditengah pergumulan dan penderitaan Allah tak pernah biarkan Saudara sendirian. Ia akan melakukan apa yang menjadi bagian-Nya. Yang harus kita lakukan adalah tetap bertekun dalam masa penantian meski hidup sarat dengan penderitaan karena Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap kita yang mengasihiNya, membentuk kita menjadi serupa gambar Anak-Nya.
Ilustrasi
Saudara, kampung Dubravy, Slovakia adalah kampung yang berbangga karena semua penduduknya tidak beragama alias ateis. Namun pada tahun 1962 sebuah keluarga bertobat, berbalik kepada Tuhan setelah dengan sembunyi-sembunyi membaca Alkitab Perjanjian Baru yang diberikan oleh seorang ibu di rumah mereka dan mendengarkan siaran rohani radio dari luar negeri. Mereka mengajak beberapa saudara mereka yang lain untuk membaca dan mendengarkan firman Tuhan dan mereka pun menjadi percaya. Kehidupan mereka berubah. Perubahan itu dirasakan oleh orang-orang sekitar dan akibatnya mereka dianiaya. Batu-batu dilempar sehingga menghancurkan kaca jendela. Listrik rumah diputuskan sehingga mereka tidak bisa mendengarkan radio lagi. Mereka dikucilkan dari serikat petani di pertanian kolektif dan hak pakai untuk sebidang tanah dicabut. Meskipun begitu, mereka tetap bertekun. Mereka berkata: “Tidak ada keraguan apa pun tentang kebenaran Injil, karena kami telah membaca ayat yang berkata: “Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu (Yoh. 15:20).”
Lalu instansi pemerintah pun ikut bertindak. Mereka mengambil kedua anak perempuan mereka dan diasingkan dari rumah jauh dari kasih sayang ibunya. Dua kali anak-anak mereka lari dari rumah piatu, namun dua kali juga tangan penguasa yang tidak berbelaskasihan menangkap mereka dan mengembalikan mereka ke tempat penampungan. Mereka berteriak: “Tolong! Tolong! Tetapi penduduk kampung hanya membuka tangan dan berkata: “apa boleh buat?” Apakah mereka menyerah? Tidak. Mereka berkata: “Tuhan melatih kami langsung melalui penderitaan. Dia memimpin kami melalui suatu jalan berduri.”
Penganiayaan berhenti? Tidak. Akhir tahun 1968 istri tercinta dan beberapa saudara ditangkap karena kesaksian mereka tentang Kristus. Mereka dipenjara selam 3-4 tahun. Tapi sang istri ketika digiring keluar dari ruang pengadilan bernyanyi: “Apabila pencobaan datang, waktu letih dalam pertempuran, dan engkau merasa tidak tahan lagi, jangan jatuh, tetapi berjuang terus. Jangan mengeluh karena nasib, sebab dalam itulah ada iman, pengharapan, dan kasih.”
Pada 16 Januari 1970 pemerintah kembali membuat ulah. Mereka mengambil ketiga anak mereka yang lain yang masih kecil untuk dimasukkan ke rumah piatu. Mereka bertanya: “Siapakah yang bisa mengerti kesusahan kami?” Dan mereka menjawab: “Sebenarnya ada! Dialah yang telah memberikan hidup-Nya untuk kita. Dialah yang memikul penderitaan kami dan menguatkan kami.”
Saudara, keluarga ini telah menunjukkan bahwa penderitaan, betapapun beratnya dapat dilalui bersama dengan Tuhan. Mereka tahu kepada siapa mereka percaya. Mereka percaya bahwa Allah akan melakukan apa yang menjadi bagian-Nya. Mereka bertekun dalam masa penantian meski hidup mereka sarat dengan penderitaan, dengan jalan memberi hidup secara total bagi Tuhan.
Aplikasi
Saudara-saudara, bagaimana dengan kita? Adakah kita juga tetap bertekun dalam masa penantian meski hidup kita sarat dengan penderitaan? Adakah kita sedia menderita untuk Tuhan? Adakah kita sedia untuk jauh dari orang-orang yang kita kasihi, ditinggal oleh orang yang paling kita cintai, meninggalkan kenyamanan yang ada, untuk pergi kemana Tuhan ingin kita pergi?
Saudara-saudara, saya tidak tahu apa yang menjadi pergumulan dan penderitaan yang membebani Saudara hari ini. Sakit penyakit yang Tuhan izinkan hadir, ketidakmampuan dalam study dan pekerjaan, perasaan ditolak, ditinggal orang-orang yang dikasihi, kondisi keluarga yang bermasalah, atau masalah lain yang menekan Saudara hari ini. Allah turut merasakan penderitaan itu Saudara. Allah ada disana untuk menemani Saudara dan Ia turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi saudara yang mengasihi-Nya.
Penutup
Serahkanlah pada Tuhan yang mampu melakukan lebih dari apa yang mampu kita lakukan. Tetaplah berjuang, bertekun dalam masa penantian, meski hidup sarat dengan penderitaan karena pengharapanmu dalam Tuhan tidak sia-sia dan percayalah ada Roh Allah yang turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap kita yang mengasihiNya. Dalam menapaki jalan panggilan, sedialah untuk berkata seperti keluarga yang berasal dari Dubravy, Slovakia, meski menderita, saya mau iring Yesus selamanya. Kiranya Tuhan dipermuliakan dalam kehidupan setiap kita anak-anak-Nya.
Amin.