Khotbah Perjanjian Baru

Cari Uang, Bukan Cinta Uang

Kedua, bila kita sudah berada dalam keadaan cinta uang, kita takkan sanggup lagi merasa cukup dan bersyukur. Rasa cukup yang diikuti dengan rasa syukur adalah indikasi bahwa kita mengendalikan uang tersebut, bukan sebaliknya. Kata orang, cukup itu relatif. Benarkah demikian? Apakah memang rasa cukup itu tidak memiliki standar ukuran?

Saya menikmati makan kepiting, dan suatu kali seseorang memesankan kepiting dalam jumlah yang sangat banyak, hanya untuk saya sendiri. Porsi pertama masih terasa enak. Porsi kedua masih dapat saya nikmati. Porsi ketiga, saya habiskan dengan susah payah. Porsi keempat? Saya menyerah karena nyaris muntah. Makan itu pasti ada batasnya, tidur juga ada batasnya. Sesungguhnya, kita mengenal rasa cukup itu. Lalu, mengapa terhadap uang kita tidak pernah bisa merasa cukup dan bersyukur? Karena rasa cinta itulah yang telah membutakan mata kita untuk melihat kebutuhan kita yang sesungguhnya. Kita terus bekerja keras, tidak pernah merasa bersyukur, dan pada akhirnya keluarga menjadi korbannya. Kita mengatakan bahwa demi keluargalah kita bekerja keras tanpa batas, tetapi keluarga justru merasa terlupakan dan terabaikan. Tak seorang pun akan mengaku bahwa dirinya cinta uang, tetapi tentu saja orang lain bisa menilai dari sikap orang tersebut terhadap uang: mencari uang atau sudah jatuh dalam lubang cinta uang.

1 thought on “Cari Uang, Bukan Cinta Uang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *