Khotbah Perjanjian Baru

Dunia Menolak yang Benar

Menjelang prosesi akhir Yesus di hadapan Pilatus, sang wali negeri Romawi ini sesungguhnya tidak memiliki alasan atau menemukan bukti kesalahan apa pun yang dilakukan Yesus. Namun demi kuasa, karier, dan mempertahankan jabatan serta loyalitasnya kepada kaisar (seperti desakan orang banyak), maka Pilatus akhirnya menyerahkan Yesus untuk disalibkan.

Sangat ironis dan intensional bila kita cermati bahwa wali negeri Romawi memilih suatu ritus Yahudi untuk memperagakan penolakan tanggung jawab dirinya atas vonis penyaliban Yesus. Jika seorang tua-tua Yahudi dari sebuah kota tidak sanggup memutuskan identitas seorang pembunuh, maka hukum Musa menyediakan ritus tersebut. Tua-tua Yahudi boleh membasuh tangan sambil berdoa kepada Allah, sebagai pertanda bahwa ia bebas dari rasa bersalah atas keputusan vonis akhir terdakwa. Pilatus sedikit memodifikasi bentuk ritus Yahudi tersebut, yakni sambil membasuh tangan di hadapan orang banyak ia berkata, “aku tidak bersalah terhadap darah orang ini!” Tanpa diragukan, dengan nada kesedihan dan kemuakan, Pilatus melanjutkan kalimatnya, “Itu urusan kamu sendiri!” Tatkala Pilatus memberikan apa yang dituntut orang banyak, maka mereka pun memberikan apa yang diminta Pilatus. Dengan kata lain, jika Pilatus meluluskan vonis salib atas diri Yesus, maka mereka rela menerima semua konsekuensinya. “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” demikianlah seluruh rakyat itu menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *