Khotbah Perjanjian Baru

Kasih di Tengah Penderitaan

Seorang gadis muda yang cantik dan energik pada suatu kali menemukan sebuah danau  yang jernih. Ia segera meloncat untuk berenang. Malang tidak dapat ditolak. Ternyata danau itu tidak cukup dalam. Kepalanya membentur keras ke dasar danau. Akibatnya, gadis itu mengalami kelumpuhan dari bagian leher ke bawah. Ia dirawat di rumah sakit selama dua tahun. Selanjutnya, ia mengalami keputusasaan yang mendalam, bahkan beberapa kali berpikir untuk bunuh diri. Namun, bagaimana mungkin ia sanggup bunuh diri? Ia tidak sanggup menggerakkan tangan dan kakinya. Satu-satunya yang dapat digerakkan adalah kepalanya. Dalam keputusasaan, rekan-rekannya memperkenalkannya kepada Yesus. Perjumpaan yang mengubah kehidupannya. Ia tak lagi mengurung diri; ia mulai berkarya bagi orang lain. Ia melukis dengan menggunakan mulutnya, menulis puluhan buku, dan mendirikan organisasi untuk menolong para penyandang cacat. Orang itu adalah Joni Eareckson. Ia menikah dengan Ken Tada. Mereka berdua membangun lembaga pelayanan: Joni & Friends, yang telah menolong jutaan penyandang cacat di seluruh dunia. Satu kalimat mendasari seluruh karya Joni Eareckson Tada: Sometimes God permit what he hate to accomplish what he loves (Sering kali Allah mengizinkan sesuatu yang dibenci-Nya terjadi untuk mencapai apa yang diperkenan-Nya).

Pergumulan dan penderitaan bisa menyebabkan kita memerhatikan kepentingan diri sendiri semata. Namun, jika kita mampu meyakini kehadiran Allah di tengah pergumulan dan penderitaan itu, kita akan mampu memancarkan kasih di tengah penderitaan, seperti Kristus. Memancarkan kasih kepada orang lain yang juga sedang bergumul dalam penderitaan dan bahkan kasih kepada orang yang menyebabkan penderitaan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *