Tetapi, apa Saudara… Sesungguhnya hidup mereka ini persis seperti plembungan. Keto’e gedhe, keto’e wah, keto’e luar biasa, kelihatannya kuat, kelihatannya seger, kelihatannya terpandang, kelihatannya ngetop, kelihatannya pangkatnya tinggi… tetapi apa isi plembungan ini? Kosong. Isinya cuma abab thok. Cuma udara saja!
Inilah yang diprihatinkan oleh Paulus. Jemaat di Kolose pun seperti itu, Saudara. Mereka mengandalkan duniawinya. Mereka mengandalkan kedagingannya. Saya mengatakan nggak papa lho, Saudara punya uang banyak. Saudara sugih, ndak papa. Punya pangkat tinggi, ndak papa. Tapi, Saudara ingat… kalau itu di dalam Tuhan… itu akan jadi berkat. Tetapi, kalau itu tidak di dalam Tuhan… kayak balon, Saudara. Keto’e wah, keto’e mewah, tapi apa… kotong isinya. Blong, melompong. Opo meneh? Saya memperhatikan, ternyata anak-anak Tuhan pun ada yang memegang filsafat balon ini… dan hidupnya sia-sia.