Amsal mengatakan, “Ada orang yang lancang mulutnya.” Ini dapat dilakukan dengan kata-kata yang pedas, menyakitkan, tidak pernah memberi pujian, atau selalu mencaci maki. Bisa juga tanpa kata, dengan bahasa simbolis, seperti mencibir atau sinis, yang dalam bahasa Jawa disebut mencap-mencep. Ketika melihat ini, orang bisa tersinggung karena merasa dihina atau direndahkan. Amsal menyebut hal ini seperti tikaman pedang. Kata-kata maupun isyarat tubuh dapat menghina dan merendahkan orang lain sehingga orang yang menerima pesan itu sakit hati. Seolah ada pedang yang menusuk hatinya dan membuat luka yang tidak mudah disembuhkan.
Lidah Orang Bijak
September 3, 2017
Luar biasa gan…