Khotbah Perjanjian Baru, Khotbah Perjanjian Lama, Renungan Berjalan bersama Tuhan

Melayani sebagai Pelayan

SS, banyak juga yang belum bergabung melayani karena merasa diri tidak bisa ini dan itu. “Kemampuan saya belum mencapai level layak untuk melayani” menjadi alasan ketika ditawari sebuah pelayanan. BISS, Tuhan tidak memanggil mereka yang mampu, tetapi Ia pasti memampukan mereka yang dipanggil-Nya. Saya dulu tidak pernah berpikir bahwa akan bisa berdiri untuk menyampaikan firman Tuhan. Bagaimana tidak? Saya bukanlah orang yang terbiasa tampil di depan. Pengalaman hanya sebagai MC di persekutuan kecil di gereja serta mengambil bagian pelayanan yang saya suka yaitu di perpustakaan. Ditawari pelayanan di sekolah minggu, saya menolak mentah-mentah sebab merasa tidak sanggup. Mengurus adik di rumah yang bandel saja tidak mampu, bagaimana lagi harus mengurusi anak-anak lain, begitu pikir saya. Tetapi masuk ke SAAT, mau tidak mau, pelayanan itulah yang harus dikerjakan selama dua tahun pertama di SAAT. Dari yang tidak suka sama sekali pelayanan ini, menjadi sebuah gerbang mempergumulkan pelayanan yang lebih spesifik: Pelayanan Anak. Latihan khotbah, deg-degannya luar biasa. Saya sering berada di titik di mana merasa tidak mampu, tidak sebaik dan sefasih orang lain. Namun Tuhan ingatkan saya akan panggilan-Nya yang mula-mula. Saya tidak muluk-muluk ingin jadi penginjil besar seperti Dr. Stephen Tong, tidak mimpi untuk menjadi seseorang hamba Tuhan yang dikenal di mana-mana. Ketika saya mantap menggumulkan untuk masuk SAAT, saya hanya bilang sama Tuhan: “Engkau tahu aku tidak mampu, Tuhan. Tapi satu hal yang kubawa, yaitu hati yang mau untuk Tuhan bentuk menjadi hamba yang layak untuk melayani-Mu.” Menengok ke belakang, saya bisa bilang Tuhan sangat baik. Ia perlengkapi satu persatu, bahkan dengan kemampuan yang sebelumnya tidak sama sekali saya miliki, Ia yang terus asah dan berkati. Sampai sekarang pun saya terus dalam proses belajar untuk melayani, tetapi hati inilah yang dibawa sebagai hamba. Hati yang lebih dulu mau melayani. Tuhan tidak perlu orang yang capable (mampu), Tuhan terlebih mau pakai mereka yang available (bersedia). Berhadapan dengan pelayanan yang ada di gereja ini, adakah kita memiliki hati yang bersedia untuk dipakai Tuhan melayani-Nya? Adakah kita menyingkirkan gengsi kita dan mau turun tangan untuk melayani?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *