Khotbah Perjanjian Lama

Menenggak Kesegaran di Padang Gurun

Adegan 3: Tetapi Daud tidak berhenti pada ratapannya, ia memohon dengan gigih (ay. 4-5)

Setiap orang memiliki respons yang berbeda ketika diperhadapkan dengan masalah. Sebagian orang menjadi nekad, sebagian lagi memilih untuk mundur dan menerima keadaan apa adanya, tetapi apa yang Daud lakukan? Daud memilih untuk berdoa. Berdoa memohon pada Tuhan yang empunya langit dan bumi untuk menolong. Inilah yang Daud lakukan. Setelah menaikkan protesnya kepada Allah, Daud tidak mencuci muka lalu pergi begitu saja. Daud berdoa, dan memohon dengan sangat, “Pandanglah kiranya,dengarlah aku, ya Tuhan, Allahku!” (ay. 4). Permohonan ini merupakan doa koresponden dari ratapannya. Jikalau sebelumnya Daud merasa Allah menyembunyikan wajah-Nya, sekarang ia memohon agar Allah memandang padanya. Jika sebelumnya Daud merasa Allah melupakannya, kini ia memohon agar Allah menjawab dan mendengarnya.

Daud “berani” memohon kepada Tuhan sebab ia memandang Tuhan sebagai Allah yang telah mengikat perjanjian dengan umat-Nya. Hal ini nyata ketika Daud untuk pertama kalinya dalam mazmur ini menyebut Tuhan sebagai, “My God”, “Allahku” (ay. 4a). Di sini ia mengklaim bahwa Tuhan adalahAllahnya Daud secara personal. Dengan demikian, Daud memiliki hak untuk memanggil dengan keyakinan kokoh bahwa ia akan didengarkan.

Setelah memohon, “pandanglah,” “jawablah,” dengan keyakinan yang sama Daud memohon lagi, “Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dalam kematian” (ay. 4b). Mata yang redup melambangkan habisnya kekuatan atau bahkan kematian. Ketika memohon agar Tuhan membuat matanya bercahaya, Daud sedang memohon agar diberikan kekuatan baru dan kelepasan dari maut yang mengancamnya.

Mazmur ini sarat dengan emosi pemazmur yang berkecamuk. Jika di bagian pertama berulang kali Daud berseru, “Berapa lama lagi?” dalam bagian ini ia memohon dengan gigih. Hal ini tampak bukan hanya dari tiga kata seru, “Pandanglah … jawablah … buatlah bercahaya!” tetapi juga dari alasan Daud, “Supaya jangan musuhku berkata: ‘Aku telah mengalahkannya,’ dan lawanku bersukacita atas kejatuhanku” (ay. 5).

Permohonan Daud sungguh gigih. Ia bagaikan seorang anak yang menarik tangan ibunya dan sambil menatap ibunya, ia berkata, “Bu, dengarkan aku!” atau seperti seorang karyawan yang memohon belas kasihan atasannya, “Pak, saya mohon beri saya satu kesempatan lagi. Saya pasti memperbaiki kesalahan saya. Saya mohon jangan pecat saya.” Inilah yang menjadi kunci kemenangan Daud juga, ia memohonpada Allah. Ia memohon dengan gigih dan tiba-tiba, ia mendapati dirinya dipenuhi dengan sukacita. Daud meletakkan bebannya pada Allah dan ia mengalami hatinya terangkat dari penjara ketakutan kepada pujian dan penyembahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *