Khotbah Perjanjian Lama

Menenggak Kesegaran di Padang Gurun

Adegan 4: Permohonan Daud menghasilkan kesegaran di tengah kesesakan (ay. 6)

Daud dipojokkan oleh musuh-musuhnya, didera sakit-penyakit, dirudung maut, dan “ditinggalkan” Allah tetapi tiba-tiba ia berbalik arah. Hati Daud tiba-tiba melonjak, seperti Yohanes Pembaptis yang melonjak dalam kandungan ketika berjumpa Yesus. Kesedihannya sirna seperti embun yang diterangi cahaya mentari. Matanya berseri-seri lagi, tangannya mengepal dengan kekuatan, mulutnya penuh dengan tertawa, dan lidahnya penuh dengan sorak-sorai,

Tetapi aku, di dalam kasih setia-Mu aku percaya,

     hatiku bersukacita di dalam keselamatan-Mu,

aku hendak bernyanyi kepada Tuhan,

     karena Ia melimpahkan kebaikan padaku.”

(ay. 6)

Ia berdiri dan meminyaki rambut kepalanya. Ia mengenakan jubah rajanya kembali dan mengambil alat-alat musiknya. Daud bernyanyi lagi! Kali ini lebih girang dari sebelumnya. Ia telah menemukan rahasia besar: kesegaran di padang gurun. Apa yang membuatnya demikian bersukacita di tengah-tengah kesesakan? Apakah ia berhasil melupakan masalahnya? Tidak. Apakah dia pasrah saja dan menolak memikirkannya lagi? Tidak. Apakah dia tiba-tiba mendapat jalan keluar yang ajaib: musuh-musuhnya tersapu tsunami dan penyakitnya hilang? Tidak.

Jawabannya adalah, Daud menemukan apa yang disebut dalam bahasa Ibrani “ḥesed āōnāy” atau dalam bahasa Inggris, “God’s unfailing love.” Dalam frasa ini terkandung makna loyalitas Allah terhadap suatu perjanjian. “Unfailing love” yang dimaksud bukanlah emosi semata melainkan sebuah kesetiaan dalam kasih itu sendiri – sebuah komitmen yang dijalankan dalam sebuah relasi kasih antara Allah dan umat-Nya.

Daud berjumpa kembali dengan kasih setia Tuhan Allah. Tabung imannya terisi penuh kembali dengan anak-anak panah “pengertian akan karakter Allah” dan “kebaikan Allah pada masa lalu.” Memorinya memanggil kembali ingatan-ingatan tentang kebesaran Tuhan pada masa lalu. Ia mengingat bagaimana Allah memilih Israel untuk menjadi umat-Nya dan Ia menjadi Allah mereka. Allah mengeluarkan mereka dari perbudakan di Mesir, membelah samudera, memimpin di padang gurun dengan tiang awan dan tiang api, memberi makan manna dan burung puyuh setiap hari, mengeluarkan mata air dari batu, memberikan kemenangan atas orang-orang Amon, Filistin, Amalek, Moab, Edom, dan meskipun Israel gagal dalam memegang janji Allah, Allah tetap setia. Ia mengingat kasih dan kebesaran Allah pada masa lalu.

Ada sepasang suami istri yang memutuskan untuk bercerai setelah dua puluh tahun menikah. Ketika mengurus pembagian harta “gono-gini” dan perjanjian finansial, sang suami membongkar sebuah kotak tua yang berisikan bukti-bukti pembayaran, dan cek-cek yang pernah ditulisnya. Tiba-tiba ia menggenggam secarik nota berwarna kekuningan karena dimakan waktu. Nota itu mencatat bukti pembayaran hotel di mana ia dan istrinya berbulan madu setelah menikah. Ya, bulan madu mereka dua puluh tahun yang lalu! Kemudian secarik kertas lain, kali ini sebuah bukti angsuran mobil bekas pertama mereka. Ia juga mendapati sebuah cek pembayaran rumah sakit untuk biaya kelahiran putri pertama mereka.

Memandangi kertas-kertas usang tersebut, sang suami terdiam seribu bahasa. Tanpa sadar air mata meleleh di pipinya. Perasaan tegang sekaligus senang yang dahulu ia rasakan tatkala menulis sebuah cek untuk membayar angsuran rumah pertama mereka, kembali memenuhi dadanya. Ingatan itu tiba-tiba menjadi begitu jelas, seperti hari kemarin. Memori itu terus meluncur: romantisnya berbulan madu bersama istri tercinta, tegangnya menantikan kelahiran putri pertama, dan bangganya dapat mengangsur mobil bekas serta membayar uang muka rumah yang mereka diami sampai hari ini.

Ia tidak dapat melanjutkan urusannya, ia meletakkan kotak tersebut dan tanpa menunda menelpon istrinya. Ia berkata, “Kita telah melalui banyak hal bersama. Banyak hal indah dan ingatan itu masih begitu jelas dalam ingatanku. Sudah terlalu banyak cinta yang kauukir dalam hidupku. Kesetiaanmu selama dua puluh tahun tidak dapat dibayar dengan apapun. Aku … aku ingin kita memulai hubungan kita dari awal lagi.”

Saudara, memori akan kasih pada masa lalu membawa sukacita yang baru. Inilah yang Daud rasakan ketika ia berkata, “Tetapi aku, di dalam kasih setia-Mu aku percaya … Aku mau menyanyi untuk Tuhan, karena Ia telah berbuat baik kepadaku” (ay. 6b). Ratapan Daud beralih pada permohonan yang gigih dan setelah itu ia menemukan dirinya berada di tengah sukacita tatkala mengingat kasih setia Tuhan pada masa lampau. Allah tidak pernah meninggalkannya sedikitpun. Allah telah berbuat baik kepadanya seumur hidupnya. Bukankah kedua hal ini cukup untuk menguatkan kita? Di tengah kesesakan yang dihadapi, Allah tidak pernah meninggalkan kita dan selama ini Ia telah berbuat baik kepada kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *