Terus menjaga motivasi hati yang benar dengan menyadari bahwa segala tindakan kita harus God-center bukan self center
Penjelasan
Saudara, Tuhan Yesus mengajari para pengikutnya bagaimana harus melakukan tindakan kebenaran dengan motivasi yang benar. Kalau boleh disederhanakan Yesus berkata, “kalau engkau berdoa, masuk ke kamar dan tutup pintu, jika engkau mau berpuasa minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu !” Dari ketiga contoh yang diberikan Yesus, ada kata yang selalu diulang, yaitu “lakukanlah dengan tersembunyi” (ay. 4, 6, 18). Apa maksud ayat ini?
Mungkin sampai di sini di antara kita bertanya bukankah Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk menjadi garam dan terang dunia? Dalam 5:16, Tuhan Yesus berkata, “Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Lalu apakah perintah Tuhan kontradiksi? Tentu jawabannya adalah tidak! Tuhan Yesus disini sedang berbicara mengenai dua dosa yang berbeda. Pertama, sikap pengecut orang Kristen yang tidak menjadi terang sehingga Tuhan tidak dimuliakan. Kedua, dosa kecongkakan yang membuat Tuhan juga resah. Jadi pusatnya adalah kemuliaan dan perkenan dari Tuhan. Jika kita mengartikan arti “tersembunyi” secara literal, maka akan terlihat bertentangan, Namun, tidak dalam hakekatnya. Esensinya adalah tidak perlu memamerkan kebaikan kita agar bukan diri sendiri yang dimuliakan, tetapi Tuhan. Jadi, penekanannya bukan pada ketersembunyian perbuatan kita, melainkan pada motivasinya yang harus God-centerbukan Self-center.
Saudara-saudara, Tuhan Yesus tahu betapa rawan hati para pengikutnya untuk mendapat pujian. Untuk menjaga hati mereka itu Tuhan Yesus berkata, “lakukan dengan tersembunyi, rahasiakan perbuatan baikmu supaya motivasimu tulus hanya untuk kemuliaan Tuhan!” Jika memang dengan melakukan tindakan kerohanian di depan umum akan menggoda hati kita untuk mendapatkan pujian, maka sebaiknya tidak usah kita lakukan di depan umum. Bahkan di ayat 4 Tuhan berkata, “Jika tangan kananmu memberi sedekah, tangan kirimu tidak usah tahu.” Tuhan Yesus menggunakan istilah ‘tangan kiri’ yang adalah anggota tubuh kita sendiri, ini menunjukkan bahwa sebetulnya bukan saja orang lain yang tidak usah tahu tetapi kita juga tidak perlu pamer kepada hati kita sendiri sehingga kita menganggap diri baik dan memuji diri sendiri. Sisi gelap dari Narsistic Leader ini hanya dapat diatasi ketika setiap anak Tuhan terus menjaga motivasinya yang God-center bukan self center. Citra Tuhan itulah yang menjadi fokus bukan citra diri.
Ilustrasi
Ada seorang hamba Tuhan yang punya masa lalu yang pahit, yaitu pernah mengalami penolakan pada waktu ia duduk di bangku SD. Ketika itu, ia ditinggalkan oleh teman-temannya dan dianggap anak yang kuper. Penolakan teman-teman sekelasnya itu, membuatnya menjadi anak yang sangat minder dan merasa tidak dihargai. Tidak heran, anak itu bertumbuh menjadi anak haus akan penghargaan orang lain. Kalau ada orang yang lebih dari dirinya maka ia sangat resah dan ia selalu berusaha untuk melabur citra dirinya supaya kelihatan baik dan tidak kalah dengan orang lain.
Namun sungguh kemurahan Allah itu besar, anak itu dipanggil Tuhan menjadi hamba-Nya. Semasa kuliah, sisi gelap ini hadir mewarnai dirinya. Kadang sangat bangga kalau ia dicap pintar oleh temannya, kadang sangat bangga kalau ia disebut baik oleh orang lain, kadang sangat bangga ketika orang mengakui kelebihannya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu betapa sering motivasi pelayanannya terfokus pada dirinya sendiri, bukan pada kemuliaan Tuhan. Tapi, sekali lagi Allah itu begitu baik, maka diajarnya ia. Dalam suatu pelayanan yang dilakukannya, ia diizinkan gagal oleh Tuhan bahkan dikritik oleh banyak orang. Saat itulah hatinya hancur dan merasa tidak berharga lagi. Saat itulah Tuhan berkata kepadanya, “Mengapa engkau sangat memikirkan perkataan orang lain terhadap dirimu? mengapa engkau sangat sedih ketika orang lain mengecapmu buruk? mengapa sangat resah dirimu ketika orang tidak menghargai dirimu?” Pertanyaan Tuhan itu menyadarkannya untuk terus memerangi sisi gelap seorang Narsistic Leader di dalam dirinya. Melalui konseling yang dijalaninya dan pimpinan Roh Kudus yang membimbingnya, sedikit demi sedikit Tuhan memulihkan dirinya.
Suatu kali sebelum ia berkhotbah, perasaan narsis itu muncul lagi. Ini membuatnya gentar dan merasa tidak layak dengan isi Firman Tuhan yang akan ia khotbahkan. Ketika itulah ia berdoa, “Bapa, tanpa aku berkhotbah pun Roh Kudus-Mu bisa bekerja. Karena itu sadarkan aku, apapun hasil dari pelayanan ini, baik itu pujian maupun kritikan, itu tidak penting bagiku. Yang kurindukan adalah namu-Mu dimuliakan.” Doa itu telah menolongnya untuk lebih fokus dalam menyampaikan firman. Tuhan memurnikan motivasinya.
Aplikasi
Saudara, keinginan untuk mendapat pujian, penghargaan dari orang lain, itu wajar. Tetapi tidak wajar bila penghargaan yang seharusnya diperuntukkan kepada Tuhan, dialihkan kepada diri kita dengan sandiwara rohani yang kita jalankan. Biarlah, Tuhan yang patut kita muliakan dan senangkan setiap saat dari setiap tindakan kita.
Saya kagum dengan komitmen “The Modesto Manifesto” yaitu komitmen yang dibuat oleh Billy Graham Evengelism Association (BGEA). Komitmen pertama dari BGEA ini adalah mereka tidak akan melebih-lebihkan atau membesar-besarkan pelayanan BGEA ini di media masa demi BGEA nampak lebih baik. Billy Graham memandang komitmen ini sangat serius. Dan biar kita belajar dari apa yang baik ini.
Saudara, jangan biarkan kemuliaan Allah dikorbankan demi kemuliaan kita. Perlu ada komitmen yang serius yang berasal dari hati kita untuk memuliakan Allah senantiasa. SS, jangan sampai kita keluar dari sini sebagai pemimpin dan sisi gelap yaitu mencari kemuliaan diri ini masih dengan subur bekerja dalam diri kita. Allah tidak berkenan atas hal itu. Sdr, mari kita terus menjaga hati dan motivasi kita supaya tetap fokus untuk memuliakan Allah saja. Mungkin itu dengan cara konseling, membuat commitment statement pribadi, berdoa secara khusus sebelum melakukan tindakan tertentu. Apapun itu, biarkan hanya citra dan kemuliaan Allah yang senantiasa menjadi hasrat dan tujuan kita.
Saudara, hari ini firman Tuhan mengingatkan bahwa Allah kita tidak berkenan kita memiliki motivasi hati mencari kemuliaan diri dari setiap tindakan kesalehan kita. Untuk itu, kita perlu menyadari bahwa Allah lah dan kemuliaan-Nya yang seharusnya menjadi pusat bukan kemuliaan kita. kita perlu terus meminta Tuhan memurnikan motivasi dari setiap perbuatan kita. Saya yakin Roh Kudus akan menolong kita untuk benar-benar memiliki hati yang murni demi kemuliaan Allah. Dan saya yakin, ketika kemuliaan Allah itulah yang menjadi hasrat dan tujuan utama dalam setiap perbuatan kita, ada damai sejahtera yang luar biasa. Biarkan moto hidup kita selamanya adalah Soli Deo Gloria, Segala kemuliaan hanya bagi Allah.
Amin