Pada umumnya manusia menjadi meragukan kasih Allah tatkala menhadapi berbagai-bagai tantangan, penderitaan dan kesulitan hidup. Isteri Ayub contohnya. Pada saat Ayub kehilangan kekayaannya; lalu kehilangan ke sepuluh anak-anaknya; kemudian Ayub kehilangan kesehatannya, maka isteri Ayub menjadi meragukan kasih dan kebaikan Allah kepada mereka. Ia kemudian berkata kepada Ayub, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ayub 2:9). Dalam hal ini iblis telah berhasil membuat isteri Ayub meragukan kasih Allah kepadanya. Orang-orang yang terkena tipu muslihat iblis sehingga meragukan kasih dan kebaikan Allah juga mereka yang Tuhan Yesus sebutkan di perumpamaan tentang seorang penabur. “Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah” (Matius 13:20-22).
Mewaspadai Tipu Muslihat Iblis
February 7, 2019