Melalui berbagai pergumulan yang dialaminya, iman Abraham semakin bertumbuh dan ia semakin mengenal siapa Tuhan yang disembahnya. Saudara, inilah yang dikehendaki Allah ketika ia mengizinkan umat-Nya mengalami berbagai kesulitan dan pergumulan hidup, yaitu agar umat-Nya memiliki iman yang bertumbuh.
Sebagai manusia, Yesus pun pernah mengalami pergumulan yang berat. Ketika menghadapi cawan pahit, Yesus pun merasa sedih dan gentar. Namun dalam kesedihan dan kegentaran-Nya itu Yesus tidak putus asa atau menyerah. Yesus tahu bahwa untuk itulah Ia datang ke dunia. Saudara, sekalipun saat itu Yesus punya pilihan untuk menolak cawan itu, namun Ia tidak melakukannya. Sebaliknya, Yesus memilih untuk menyerahkannya kepada Allah dan Ia berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:9).