Bagaimana dengan kita? Apa yang kita katakan untuk menjalani hidup dengan benar? Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ketika Dia datang ke dunia dan apa yang diajarkan-Nya kepada kita? Kalau kita mengamati apa yang dikatakan orang, sekalipun ia terkenal sejagat raya seperti Socrates, semua perkataan mereka tampak jelas berpusat pada diri sendiri. Kepuasan, kebaikan, atau kebajikan dalam hidup ini, bisa dilakukan dengan kekuatan diri sendiri dan ditujukan bagi kepentingan diri sendiri! Kalau kita memperhatikan semua nasihat para filsuf itu, tampak jelas bahwa apa yang mereka lakukan tidak ada hubungannya dengan orang lain. Berbeda dengan Tuhan Yesus. Dia berada di dalam dunia bukan untuk keuntungan dan kepentingan-Nya sendiri, melainkan untuk kebaikan dan keselamatan orang lain. “Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani …” (Markus 10:45). Maka dari itu, filsafat hidup Paulus adalah “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:3-4). Bentuk kebahagiaan dan sukacita hidup seharusnya seperti yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. Paulus pun berpendapat bahwa hidup yang memberi kepuasan bukanlah hidup yang mementingkan diri sendiri. Bukankah ini terbalik dengan realitas dunia? Firman Tuhan mengingatkan kita agar dengan rendah hati kita melihat orang lain lebih utama daripada diri kita sendiri, dan dengan demikian kita dapat menghargai orang lain. Marilah kita terus belajar seperti apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Amin.