Akan tetapi definisi Merriam-Webster barulah menyentuh gejala keserakahan. Jika kita ingin membedah anatomi keserakahan, definisi ini barulah lapis yang pertama. Ia belum sampai menukik pada hakikat terdalam dari keserakahan.
dua
Menurut definisi leksikal tersebut, apa yang bermasalah dengan keserakahan adalah ketika kebutuhan bercampur-baur dengan keinginan, need dan want, necessity dan desire. Kita menjadi serakah ketika apa yang kita inginkan disamarkan menjadi apa yang kita butuhkan. Padahal kita sebenarnya tak sungguh-sungguh membutuhkannya. Kita hanya menginginkannya. Beberapa tahun lalu saya tidak perlu membayar Bill Gates untuk bisa menulis makalah yang saya bagi setiap Selasa ini. Saya cukup memakai mesin ketik biasa. Namun, sekarang, selalu ada suara dalam benak saya berkata, “Saya butuh komputer terbaru, supaya pelayanan saya berjalan baik.” Kalimat “saya butuh …” sesungguhnya identik dengan kalimat “saya ingin …” Batas antara kebutuhan dan keinginan makin tipis dan makin kabur. Hidup di Los Angeles, tak seorang pun menyangkal, membutuhkan mobil. Ini sudah menjadi kebutuhan. Namun, “Saya membutuhkan mobil KIA yang paling murah” dan “Saya membutuhkan mobil BMW M6 Coupe” bukan lagi soal kebutuhan, namun keinginan. Dan kita menyamakannya begitu saja. Kita tak akan kesulitan menemukan justifikasi untuk menyamarkan keinginan ini dengan kebutuhan.