Yesus mengajarkan kita untuk mendoakan kebutuhan dasar kita, “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mt. 6.11).
- Yang pertama, doa ini mengajarkan kita untuk meminta kepada Sang Pemelihara agar memberikan kebutuhan dasar (roti, artos).
- Kedua, doa ini mengajarkan agar permintaan itu diukur dengan prinsip “secukupnya,” tidak lebih apalagi berkelebihan, tidak kurang apalagi berkekurangan.
- Ketiga, doa ini juga mengimplikasikan bahwa “meminta” mendorong “mengusahakan.” Kita tidak boleh meminta sesuatu yang tak mau kita perjuangkan.
- Keempat, doa ini memusatkan permintaan dan perjuangan kita pada kebutuhan hari ini. Perencanaan penting untuk dilakukan, namun tidak boleh menghilangkan keyakinan kita bahwa Allah adalah pemilik masa depan.
- Kelima, aspek komunal menjadi penting (“kami”). Doa Bapa Kami bukan doa individual, namun doa komunal dan malah sosial. Mintalah pada Sang Pemelihara untuk memberikan kebutuhan dasar yang secukupnya pada diri Anda dan orang lain … serta usahakanlah apa yang Anda minta itu.
Dengan kata lain, doa ini mengajarkan prinsip: “kebergantungan pada Sang Pemelihara akan kebutuhan dasar yang secukupnya bagi semua orang.” Lewat prinsip ini tak ada celah sama sekali untuk keserakahan (Greed). Karena keserakahan mengimplikasikan peleburan kebutuhan dan keinginan; karena keserakahan juga mengganti prinsip cukup dengan lebih; selain itu, karena keserakahan menghilangkan pentingnya dependensi kita dari Sang Pemelihara dan mengutamakan usaha manusia; keserakahan menghilangkan kekuatan dari pengharapan masa depan dan menggantinya dengan usaha manusia; akhirnya, keserakahan bisa dengan mudah berkolaborasi dengan pementingan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain.