Khotbah Perjanjian Baru

Setiakah Anda Mengembangkan Talenta Anda?

2. Ada penghitungan atas pekerjaan mereka

Penjelasan

Saudara, kita kembali pada kisah Alkitab tadi. Lama setelah itu dikatakan bahwa sang tuan akhirnya pulang, lalu mengadakan perhitungan dengan ketiga orang hambanya.  Perhitungan pun dilakukan sesuai waktu dan urutannya, dimulai dari hamba pertama.  Hamba yang pertama datang bukan hanya dengan lima talenta yang dia terima, tetapi juga dengan lima talenta yang dihasilkannya.  Hamba ini dapat mendekati tuannya dengan perasaan bebas karena ia telah melakukan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh dan setia.  Hamba ini mengakui dengan rasa syukur atas kesediaan tuannya memberikan sesuatu kepadanya.  Ini dapat dilihat dari pernyataan, “Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku.  Kemudian dia melanjutkan, “lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.”  “Lima talenta lainnya” ini berasal dari kata alla talanta (άλλα τάλαντα), yang memberikan suatu ekspresi penekanan; bukan hanya pada talenta-talenta yang sebelumnya telah ia miliki, namun juga pada talenta-talenta lain yang telah berhasil diperoleh.

Dan kesenangan itu menjadi semakin sempurna saat tuannya pun memberikan pujian serta hadiah kepada hamba tersebut, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia. Engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.  Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Hal yang sama rupanya dialami juga oleh hamba yang kedua.  Kemurahan hati tuannya ini ternyata tidak berkurang sedikit pun.  Sang tuan tetap memberikan penghargaan yang sama seperti yang telah diberikan pada hamba yang pertama.

Namun saat hamba yang ketiga datang untuk memberikan pertanggungjawaban, suasana pun berubah.  Bukannya segera mengembalikan uang tersebut, hamba ini justru mengeluarkan dulu sedikit perkataan, “Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut di mana tuan tidak menanam.” Saudara, coba perhatikan baik-baik.  Saat berbicara, hamba ini rupanya tetap menggunakan panggilan sopan yang sama dengan kedua hamba lainnya, yaitu “Sir” atau “tuan”, namun pada kenyataannya ia memiliki pandangan yang sangat berbeda mengenai tuannya.   Berbeda dengan kedua rekannya, hamba ini justru menganggap tuannya sebagai orang yang kejam, yang menuai di tempat di mana ia tidak menabur dan memungut di mana ia tidak menanam.  Karena alasan inilah hamba itu takut dan pergi menyembunyikan talenta tuannya di dalam tanah.

Saudara, hamba yang ketiga ini kemudian mencoba memberikan pertanggungjawaban kepada tuannya.  Dia mengandalkan dalih karena takut menanggung resiko, maka dia menggali lubang di dalam tanah dan menguburkan uangnya.  Akibatnya ia mampu berkata, “Ini, terimalah kepunyaan tuan!  Kata “ini” berasal dari kata ide (ϊδε) yang artinya look, yang seolah-olah mengatakan bahwa dia memang tidak dapat menggandakan talenta tersebut seperti yang dilakukan oleh teman-temannya, tetapi dia juga ingin menyampaikan bahwa talenta tuannya tersebut tidak berkurang sedikit pun.  Jadi kalau diterjemahkan, kurang lebih hamba itu berkata:“Look, you have what is yours.”  Terlihat sekali dari pernyataannya bahwa hamba tersebut berbicara seolah-olah yang dia lakukan itu bukanlah kesalahan besar.  Malah, tampaknya dia merasa layak memperoleh pujian atas sikapnya yang berhati-hati dengan menyimpan talenta itu di tempat yang aman dan tidak membahayakan.  Di sini ia mengira bahwa dalihnya itu akan berhasil sehingga dia akan selamat dari hukuman.

Saudara, kalau mau dikoreksi, bukankah kita juga sering menciptakan alasan atas setiap kesalahan yang telah kita lakukan.  Pikiran kita otomatis bekerja untuk mencari alasan agar kita dapat terhindar dari hukuman yang mungkin akan kita alami.  Jika di dunia ini ada “sekolahkhusus untuk membuat alasan”, maka setiap kita mungkin telah mendapatkan gelar doktor ataubahkan mungkin ada diantara kita yang sudah mendapatkan gelar profesor.  Betapa mudahnya kita menyalahkan orang-orang di sekitar kita dan bahkan pada Tuhan sendiri.  Di dunia, kita mungkin masih bisa berbuat begini. Tapi kelak, saat penghakiman-Nya tiba, kita tidak akan dapat berkelit lagi, persis seperti yang dialami hamba ketiga ini…

Secara mengejutkan, sang tuan ini justru berkata kepada hambanya (ay. 26-27), “Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?  Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembalinya aku menerimanya serta dengan bunganya.”  Saudara, pada bagian ini sebenarnya sang tuan sedang mencoba untuk mengatakan bahwa jika sang hamba tahu kalau tuannya kejam, maka sudah sepatutnyalah ia melakukan kebalikan dari apa yang telah dilakukannya. Artinya, jika sang tuan adalah seorang yang kejam, bukankah hamba ini seharusnya menjadi lebih rajin dan lebih bersungguh-sungguh lagi untuk menyenangkan sang tuan? Setidaknya kalau bukan demi kasih maka rasa takut itulah yang harusnya membuat hamba ini bekerja. Atau jika sang hamba menganggap bahwa sang tuan menuai di tempat di mana ia tidak menabur, maka hal itu sesungguhnya tidak ada urusannya dengan diri sang hamba karena tuannyalah pemilik dari talenta tersebut dan ia jelas menghendaki supaya talenta itu dikembangkan.”  Saudara, dakwaan-dakwaan tersebut rupanya mampu menyadarkan dan membungkam hamba ini sehingga ia tidak dapat membela dirinya lagi.

Setelah memarahi hamba tersebut dan membuatnya jelas mengapa dia dipersalahkan, sang tuan pun mengambil tindakan yang sangat tegas. Katanya, “Sebab itu…”  Saudara, kata “sebab itu” sangatlah penting karena menunjukkan hubungan sebab akibat.  Di sini jelas sekali digambarkan bahwa tuannya itu bukan orang yang bertindak semena-mena.  Hamba yang telah diberi kepercayaan ini telah menyia-nyiakan kepercayaan yang tuannya telah berikan, “sebab itu” ia layak menerima konsekuensinya.

 

Ilustrasi

Saudara, suatu hari seorang sahabat saya mengirimkan sebuah sms singkat pada saya, “ntar kalo loe uda pulang cepet telepon gue yah.  Gue lagi bener-bener sedih!”  Saudara, tidak biasanya ia mengirim sms yang seperti ini.  Dengan penuh kecemasan, akhirnya saya pun segera meneleponnya dan bertanya ada masalah apa.  Dengan terisak ia pun menceritakan bahwa hari itu ia telah dipecat dari pekerjaannya di Jakarta.  Setelah ia cukup tenang, saya pun kemudian bertanya apa yang menyebabkan perusahaan tersebut memecatnya?  Sahabat saya ini kemudian bercerita kalau selama ini dia itu dianggap tidak menunjukkan kinerja yang baik selama bekerja di sana.  Sebagai karyawan, ia dinilai kurang bertanggung jawab menjalankan pekerjaannya sehingga perusahaan pun akhirnya memecatnya.  Saudara, setiap kita yang pernah bekerja tentu menyadari sekali akan aturan-aturan seperti ini.  Ada punishment yang akan perusahaan berikan kepada karyawan yang dinilai tidak bertanggung jawab menjalankan tanggung jawabnya.  Namun di balik itu, perusahaan pun akan menyediakan reward bagi karyawan yang dinilai baik dalam pekerjaannya.  Dan setiap kita bisa mengalami kejadian seperti yang teman saya alami.

Saudara,  jika perusahaan di dunia ini saja dapat memberlakukan aturan seperti ini, apalagi Tuhan yang jelas-jelas adalah pemilik seluruh hidup kita dan juga atas talenta-talenta kita.  Bukankah Ia jauh lebih berhak untuk meminta pertanggungjawaban setiap kita dalam menggunakan seluruh talenta yang telah Ia percayakan?

 

Aplikasi

Saudara, sadarilah bahwa menggunakan talenta itu bukan suatu pilihan, namun merupakan satu keharusan bagi setiap kita di tempat ini.  Ia memiliki tujuan-tujuan ilahi ketika mempercayakannya pada kita dan kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan tersebut.  Dan ada waktunya, di mana setiap kita harus mempertanggungjawabkan hal ini.  Pada saat penghakiman terakhir setiap kita akan dihakimi sesuai dengan kesetiaan kita menggunakan talenta yang telah Tuhan percayakan.  Saudara, kebenaran ini sesungguhnya bukan untuk menakut-nakuti setiap kita.  Tapi kita diajak untuk mengintropeksi diri kita, apakah selama ini kita telah setia dalam menggunakan apa yang telah Tuhan percayakan.  Selagi masih ada waktu, selagi masih ada kesempatan, mari pergunakan seluruh talenta itu dengan sebaik-baiknya.

 

Penutup

Jadi jelaslah Sdr bahwa talenta yang telah Tuhan percayakan adalah suatu anugerah yang luar biasa bagi kita.  Kita dapat dipercaya untuk melayani Allah dan juga menjadi rekan sekerja-Nya di tengah duniaini.  Mari kita syukuri hal ini. Bertanggung jawablah untuk sungguh-sungguh menemukan, mengolah, dan menggunakannya bagi kemuliaan Tuhan serta menjadi berkat bagi orang di sekitar kita, sehingga kelak Tuhan akan bisa berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.  Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *