Khotbah Perjanjian Baru

Sungguh-sungguh Bergumul, Sungguh-sungguh Beriman

Iman itu seperti kacamata yang darinya kita dapat melihat dunia di sekitar kita, bahkan diri kita sendiri. Beda iman, beda pula persepsi yang ditangkap, meski kenyataannya sama. Nah, yang ini lebih gampang diilustrasikan melalui cerita daripada konseptual begini.

Seorang janda tinggal seorang diri dan hidup dari uang pensiunan. Ia sangat beriman kepada Tuhan. Setiap pagi ia bersyukur kepada Tuhan dalam doanya. Tetangganya, seorang ateis, tidak menyukai hal itu. Suatu pagi, tetangga tersebut mendengar si janda itu berdoa meminta sembako, karena persediaannya sudah hampir habis dan uang pensiun terlambat datang. Tetangga itu pergi diam-diam membeli sembako dan meletakkannya di depan pintu rumah si janda. Ketika si janda menemukan sembako itu, ia segera berlutut dan menaikkan doa syukur. Tiba-tiba si tetangga yang ateis muncul dan mengejek, “Kamu memang janda yang bodoh. Aku yang memberi sembako itu untukmu, bukan Tuhan yang setiap pagi kausapa dengan doamu. Kalau bukan aku yang memberi, kamu pasti mati. Tuhan itu tidak ada.” Mendengar itu si janda langsung berlutut dan kembali berdoa. Kali ini dengan suara keras, “Ya, Tuhan, Engkau sungguh mahamurah. Engkau bukan saja mengirimkan sembako ini, tetapi Engkau juga telah memerintahkan si Iblis ini untuk membayarnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *