Saat ia seperti itulah, kemudian ada buku lama pemberian sahabatnya yang tergeletak di sudut ruang kamarnya. Ia tertarik dan kemudian mulai membaca buku tersebut. Ia terpesona karena buku itu menuntunnya untuk mengenal Allah yang sangat mengasihinya. Halaman demi halaman ia baca sampai habis dan kembali ia ulang. Ia menemukan betapa hatinya selama ini sangat keras dan memandang hidupnya okay-okay saja. Ia menyesali pandangannya yang berpikir: “Saya tidak perlu Tuhan!” Ia juga belajar untuk mengerti bahwa Allah sangat mengasihinya dan peduli dengan hidupnya. Malam harinya ia berlutut di hadapan Allah dan menerima Yesus sebagai Juruselamatnya. Ia bersukacita karena mengalami kelahiran baru di dalam Kristus. Saat ia berserah kepada Allah, maka Ia bertindak. Allah mempertemukan dia dengan seorang pemuda di Surabaya yang sangat mengasihi Tuhan Yesus dan mereka kemudian menikah serta melayani bersama.