Khotbah Perjanjian Baru

Kehidupan dari Perspektif Pengkhotbah dan Yesus Kristus

Kita merasa sulit hidup sebagai domba di tengah serigala dan di tengah tidak adilnya dunia ini. Kita mengalami kesulitan mengubah serigala menjadi domba. Namun, betapapun sulitnya, setidaknya yang perlu dijaga adalah bagaimana diri kita tidak ikut-ikutan menjadi serigala juga. Itu saja sudah cukup; tidak usah berpikir bagaimana caranya supaya serigala bisa menjadi domba. Tidak usah berpikir bagaimana caranya menantang dan mengalahkan serigala. Setidaknya pertahankan diri agar tidak ikut-ikutan menjadi serigala. Supaya seperti yang Yesus katakan, yaitu kita adalah (tetap) domba di tengah serigala.

Sekarang kita sudah menemukan dua perspektif. Yang pertama, Pengkhotbah mengatakan dunia ini tidak adil tetapi ada tangan Tuhan yang terus berkarya dan terus menopang kita. Yang kedua, Yesus berkata bahwa kita diutus ke dalam dunia ini sama seperti domba ke tengah serigala.

Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah kecewakah kita dengan hidup kita? Kecewakah kita dengan apa yang kita alami? Kecewakah kita jika pekerjaan tidak menghasilkan sebagaimana yang kita inginkan, keluarga tidak berfungsi sebagaimana yang kita harapkan, kehidupan tidak semanis yang kita pikirkan dan inginkan? Secara jujur dan terus terang, kita boleh mengakui bahwa kita kecewa dan layak terluka ketika itu datang kepada kita. Kita layak kecewa karena menerima apa yang tidak seharusnya kita terima. Namun, ketahuilah bahwa di dalam semua kepedihan dan kepahitan serta kekecewaan hidup ada tangan Tuhan yang masih terus berkarya dan yang tidak pernah kehilangan kendali, bahkan pada saat kita tidak melihatnya sekalipun. Di dalam semua kedukaan, kepahitan dan kekecewaan kita, pandanglah melalui mata iman bahwa ada tangan Tuhan yang terus berkarya di dalam hidup kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *