Itulah yang terjadi pada Abraham. Suatu ketika, Allah meminta buah hati Abraham yang sangat ia sayangi. Allah berfirman, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran” (Kejadian 22:2). Perintah ini mungkin terdengar seperti halilintar yang menyambar di siang hari bolong dan tak pernah terpikirkan oleh siapa pun, termasuk Abraham. Jelas, hal tersebut tidak pernah ada dalam rencana hidup Abraham. Sungguh ini merupakan pergumulan yang sangat berat! Meski berat, Abraham menunjukkan kebergantungannya kepada Allah dalam menyelesaikan pergumulan hidup yang dihadapinya. Allah membentuk Abraham sedemikian rupa untuk bergantung hanya kepada-Nya dan mempersiapkan Abraham untuk melakukan karya yang lebih besar.
Ambillah, Serahkan untuk Berkarya
May 2, 2018