Bandingkan juga dengan Saulus yang menyetujui kematian Stefanus dan yang bermaksud memasukkan semua orang Kristen ke dalam penjara. Orang ini ternyata sama sekali tidak dihukum berat, tetapi malahan dijadikan murid Tuhan Yesus (Kis 7; 9:1-22). Atau kalau mau dikatakan dihukum, dia hanya dihukum buta selama beberapa hari (Kis 9:9). Seakan-akan semua kesalahannya “dilupakan” oleh Allah. Ananias (Ananias yang lain yang adalah murid Tuhan, Kis 9:10) bahkan sempat “protes” kepada Tuhan tentang Saulus (Kis 9:13-14). Ada banyak hal yang jahat yang dilakukan oleh Saulus terhadap umat Allah (Kis 9:13), mengapa Tuhan menyelamatkan dia, malahan mau menjadikan dia alat pilihan Allah (Kis 9:15). Elimas, seorang tukang sihir, yang mencoba membelokkan iman Gubernur Sergius Paulus, “hanya” dihukum buta selama beberapa hari (Kis 13:8-11). Padahal dengan jelas Paulus menyebutnya “anak Iblis.” Mengapa Allah menghukum Ananias dan Safira begitu dahsyat? Bukankah kesalahan mereka kelihatannya relatif lebih ringan dari Petrus, Saulus maupun Elimas? Mereka kan hanya berbohong masalah besarnya persembahan? Untuk itu kita perlu lebih memperhatikan lebih cermat cerita tentang Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul pasal lima tersebut.
Ananias dan Safira: Disiplin Gereja
January 24, 2022