Kita sering menempuh perjalanan yang salah dalam hal beribadah kepada Tuhan. Kelihatannya kita sudah percaya kepada Tuhan, sudah beribadah kepada-Nya, sudah turut melayani-Nya, namun kita masih belum diperkenan Tuhan. Mengapa? Bila kita merenungkan lebih dalam, hal ini disebabkan sikap ibadah kita yang salah.
1) Ibadah yang Asal-asalan
Dari dua pembacaan Alkitab dari 1 Samuel 7:1-17 dan 2 Raja-raja 17:34-41, kita menemukan dua kisah yang sungguh sangat kontras. Dalam 1 Samuel 7:1-17 dicatat bahwa umat Israel menolak Tuhan dan ingin menyembah kepada allah lain. Sebaliknya, 2 Raja-raja 17:34-41 mencatat bahwa penduduk setempat beribadah kepada Tuhan, namun dengan sikap yang asal-asalan saja. Raja Asyur menyerang kota Samaria, dan menempatkan sejumlah penduduk dari bangsa lain di kota tersebut. Penduduk tersebut tidak mengenal Tuhan, tidak takut dan hormat kepada Tuhan. Tuhan membiarkan singa-singa masuk dan memangsa mereka. Raja Asyur menjadi takut, lalu meminta seorang imam di antara para tawanan di Samaria itu untuk datang mengajarkan kepada mereka cara beribadah kepada Tuhan. Penduduk takut dimangsa singa sehingga dengan asal-asalan mereka beribadah kepada Tuhan. Namun Alkitab mencatat, penduduk asing yang berdiam di Samaria itu tetap membuat dan menyembah berhala mereka. Di samping mendirikan mezbah untuk menyembah Tuhan, mereka juga menjadikan patung berhala sebagai allah (2 Raja-raja 17:8-33). Ibadah penduduk seperti ini dilandasi dengan kepura-puraan, sembrono, dan asal-asalan belaka.