Jean Valjean, seorang tokoh dalam novel Les Miserables karangan Victor Hugo, mengilustrasikan gambaran ini dengan sangat baik. Ia adalah seorang yang kehidupannya sangat malang. Hanya karena mencuri roti untuk memberi makan sepupunya, ia harus dipenjara selama puluhan tahun, mengakhirinya dengan status sebagai seorang mantan narapidana kelas berat.
Satu kali ia masuk ke sebuah kota dengan baju compang-camping serta wajah yang garang, tak pernah mengenal belas kasihan selama puluhan tahun. Ia diusir dari penginapan, yang sempat menerima ia sampai duduk, hanya untuk mengusirnya ketika identitasnya diketahui. Berjalan luntang-luntung diterpa angin dingin, ia memutuskan untuk meletakkan kepalanya di pinggir jalan. Seorang suster menawarkan sebuah tempat berteduh, Jean pesimis ada orang yang mau menerimanya. Suster tersebut menunjuk kepada sebuah gereja dan ia berkata, “anda pasti belum mencoba rumah itu.” Bangkitlah Jean mencoba peruntungannya. Ketika masuk, ia berkata dengan lantang-lantang bahwa ia hanya ingin menumpang tidur—di kandang pun boleh. Sang imam langsung menyiapkan sebuah kamar tidur, tepat bersebelahan dengan kamar sang imam; hidangan panas dan hangat dari perabot emas digunakan. Jean terkejut dan terheran. Setelah menikmati semuanya dengan kasar, ia menidurkan dirinya di atas apa yang tak pernah dikecapnya selama puluhan tahun.