Seperti yang Tuhan ajarkan lewat peristiwa manna itu, yaitu meskipun manna itu turun setiap hari, orang Israel tidak boleh menimbun dan tidak boleh serakah. Tuhan ingin mengajar mereka untuk mengendalikan diri. Ambil secukupnya. Besok ambil lagi secukupnya dan tidak perlu membangun gudang yang besar. Tuhan memerintahkan demikian karena melihat bahwa masalahnya bukan pada kurangnya makanan, tetapi pada kurangnya pengendalian di dalam diri orang Israel. Tuhan ingin mengajar tentang pengendalian diri melalui berkat manna. Akan tetapi, orang Israel gagal dalam ujian itu, bukan? Diperintahkan untuk mengambil secukupnya, namun mereka mengambil banyak sehingga manna itu berulat dan membusuk. Diperintahkan hari Sabat adalah hari khusus untuk Tuhan, tetapi mereka tetap bekerja mengambil manna dan ternyata mereka tidak mendapatkan manna pada hari itu.
Tuhan memenuhi kebutuhan umat-Nya. Tuhan tidak bertanggung jawab untuk memuaskan ego umat-Nya.
Kita sadari dan pahami bahwa Tuhan tidak sekadar puas memenuhi kebutuhan kita, tetapi ia ingin mendapatkan hati kita. Ia ingin mengajar kita tentang penguasaan diri. Jika kita berkata bahwa saat ini kita sedang kesulitan keuangan, mari kita periksa dulu hati kita: apakah kita memang ingin memenuhi kebutuhan kita atau memuaskan ego kita? Sungguhkah kita menjadikan uang untuk memenuhi kebutuhan kita atau kita sebenarnya telah menjadikan uang untuk memanjakan ego kita? Sebelum kita berbicara ke sana ke mari bahwa kita kekurangan uang, mari kita lihat daftar kebutuhan hidup kita. Apakah daftar itu memuat kebutuhan hidup kita ataukah di dalamnya terselip hal-hal yang memuaskan ego kita? Yang akan Tuhan penuhi adalah kebutuhan hidup kita, bukan kepuasan ego kita.