Bagian Alkitab yang kita baca tadi mengisahkan orang Israel yang kali ini betul-betul bergumul dengan kebutuhan hidup. Kali ini mereka bukan berhadapan dengan soal ego lagi, tetapi dengan soal kebutuhan hidup mendasar, yaitu soal makanan. Mereka sudah berjalan di padang gurun selama dua bulan dan persediaan makanan pasti sudah habis. Dalam kondisi lapar, selain bisa mengantuk, orang juga bisa merasa lebih emosional dan kehilangan kendali atas dirinya. Apalagi dalam sebuah kumpulan besar, seperti orang Israel itu. Pastilah begitu banyak orang yang kelaparan dan pasti perasaan mereka itu sudah mulai meluap-luap karena marah. Itulah sebabnya ketika mereka tidak mendapatkan makanan, mereka berkata, “Ah sekiranya kami dulu di Mesir, kami tidak akan mati seperti ini. Di Mesir kami bisa makan semuanya, tetapi sekarang kami tidak mempunyai makanan.” Di dalam kondisi kebutuhan hidup yang mendesak, manusia bisa tidak rasional lagi. Bukankah orang Israel yang dulu pernah berdoa, “Tuhan, bebaskan kami dari penjajahan?” Dulu mereka pernah berteriak kepada Tuhan agar Tuhan melepaskan mereka dan membiarkan mereka hidup dengan bebas. Ketika Tuhan sudah membebaskan mereka dan memimpin mereka keluar sekarang mereka berteriak-teriak dan menuduh serta mendakwa Tuhan mau membunuh mereka dengan kelaparan.
Di sini kita bisa berbicara tentang sifat manusia. Jika manusia itu memiliki kebutuhan yang mendesak dan begitu mencekam, manusia itu bisa kehilangan akal sehatnya.
Pada saat seperti itu, manusia bisa mengabaikan semua pertimbangan moral sehingga tidaklah mengherankan jika ada orang yang didesak oleh kebutuhan hidup, ia lalu mencuri, merampok, dan melakukan hal-hal yang jahat. Ternyata manusia jika begitu terdesak dan terpojok oleh pergumulan akan kebutuhan hidupnya, bisa melakukan hal-hal yang selama ini tidak terbayangkan sebelumnya.