Ayat 16 menggambarkan kepercayaan Habakuk pada Allah yang melampaui kesulitan yang sedang dan pasti akan dihadapi. Serangan Babel yang menghancurkan Yehuda adalah bencana nasional yang mengerikan dan menakutkan. Namun, Habakuk akan menyambut hari kesusahan itu dengan tenang. Dan, dengan tenang juga ia akan menantikan waktu dimana Tuhan akan menghukum bangsa Babel.
Respons Habakuk terhadap ketakutan yang ia alami ini sama seperti pemazmur dalam Mazmur 56:4, “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu” Rasa takut berkaitan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita yang dihadapi saat ini atau karena sesuatu yang berkaitan dengan masa depan. Sidang proposal/skripsi tampak menakutkan. Mau kerja apa setelah lulus? Menempati posisi tertentu dalam pelayanan atau pekerjaan memberikan kegentaran tersendiri. Di tengah kegelisahan dan ketakutan kita, kita diperhadapkan pada pilihan. Apakah membiarkan ketakutan tersebut melumpuhkan kekuatan kita dengan meratapi nasib, menyalahkan keadaan, bahkan protes kepada Tuhan? Ataukah kita memilih untuk datang pada Tuhan, mengungkapkan ketakutan kita sebagai manusia yang terbatas, sambil memupuk kekuatan dan iman untuk berjuang dan mengahadapi segala persoalan tersebut?