Khotbah Perjanjian Baru

Hidup Kristen yang Berintegritas

Pemulihan Petrus dan Kita

Saudara, saya kira pergumulan-pergumulan yang kita alami, juga dialami oleh Petrus. Dia sadar bahwa dia bukanlah orang yang berintegritas. Dia ingat saat malam Yesus hendak disalibkan, Yesus berkata kepada Petrus bahwa ia akan menyangkal-Nya tiga kali. Kata Petrus, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (Mat.26:35). Beberapa jam kemudian, ia melakukan persis seperti yang dikatakan Yesus. Petrus mendapati bahwa ia bukan orang yang memiliki integritas seperti yang ia kira selama ini. Kenyataan ini pasti sangat menyakitkan hati Petrus. Petrus tentu bertanya-tanya mengapa seorang manusia sepertinya bisa ditunjuk untuk menjadi pemimpin gereja Tuhan?

Bahkan setelah ia diampuni oleh Tuhan Yesus dan dipercayakan lagi untuk menjadi pemimpin gereja untuk menggembalakan domba-domba Tuhan, ia sekali lagi jatuh pada tindakan kemunafikan. Teguran keras Paulus di muka umum tentu membuat mukanya merah. Ia mungkin marah dan berkata dalam hatinya, “Hai Paulus, jangan sombong! Siapa sih kamu itu? Sebelum kamu menjadi hamba Tuhan, aku sudah menjadi pendeta besar. Sadar Paulus, kamu itu masih mahasiswa praktik satu tahun. Masa depan kamu tergantung rekomendasi aku, ngerti!!!” Atau ia bisa saja membawa Paulus menyingkir berdua dan berkata, “Paulus, kalau aku memang salah, tegur aku secara pribadi, tapi jangan di depan orang banyak seperti itu. Bukankah Tuhan Yesus mengajar kita untuk menegur orang pertama-tama empat mata dulu? Jadi, apa maksud kamu? Ha!”

Tetapi, saudara-saudara, Alkitab diam seribu bahasa dalam melukiskan reaksi Petrus terhadap teguran keras Paulus. Saya menduga yang terjadi mungkin sebaliknya. Teguran keras Paulus mengingatkannya kembali akan suara ayam berkokok yang meruntuhkan kebanggaan dirinya. Ia kembali sadar bahwa dirinya sangat tidak memenuhi kualifikasi untuk menjadi seorang pemimpin Kristen yang dapat diteladani. Perasaan tidak layak mungkin saja menguasai dirinya dan dalam keadaan seperti itu bisa saja dia bertanya kepada Tuhan, “Mengapa aku Tuhan, mengapa aku yang Kau pilih untuk menjadi pemimpin gereja-Mu? Aku bukanlah orang yang berintegritas. Aku tetap sama, Petrus yang dulu! Ah, bagaimana mungkin aku bisa menjadi hamba yang berintegritas?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *