Namun, bagaimana dengan relasi antara manusia dan Allah, Sang Pencipta kehidupan? Bukankah kita tidak lepas dari asumsi tertentu yang berasal dari pikiran atau pengalaman kita. Nah, dari mana kita tahu asumsi tentang Allah itu tepat dan tidak keliru? Bukankah fatal akibatnya jika kita mempunyai asumsi yang keliru tentang Allah?
Bacaan Yohanes 1 adalah respons penulis Injil Yohanes terhadap dugaan/asumsi/prasangka yang keliru, yang umum berkembang pada waktu itu. Melalui ayat 14, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita …,” penulis Injil hendak mengoreksi dua aliran besar pemikiran tentang Allah yang keliru namun populer beredar pada masa itu. Ada setidaknya dua aliran besar pemikiran tentang Allah pada waktu itu. Yang pertama adalah pemikiran Yunani, yang berpikir bahwa Allah nun jauh di sana, tak berurusan dengan dunia ini, sebab Allah yang adalah roh itu kudus dan dunia yang merupakan materi itu pada hakikatnya jahat. Jadi, Allah tidak berurusan dengan hidup manusia di dunia ini. Manusia bebas menikmati apa saja, tetapi juga menanggung segala konsekuensi hidup seorang diri. Hidup tanpa kehadiran Allah.