Adegan 2: Dalam menghadapi kesesakan, Daud meratap kepada Allah (ay. 2-3)
Ketika masalah datang, sebagian orang punya kecenderungan untuk menutupi dan melupakan masalah itu. Ada yang berusaha menenggelamkan masalahnya dengan minum-minuman keras tetapi mereka lupa bahwa “masalah dapat berenang.” Ada yang melampiaskan stres mereka dengan mencari hiburan malam. Alhasil, masalah mereka bertambah banyak. Ada yang berpikir bahwa “time will heal” tetapi itu pun hanya mitos. Waktu tidak menyembuhkan. Akhirnya masalah mulai merampas keceriaan, kebebasan, waktu-waktu berkualitas, dan akhirnya kesehatan kita. Sambil “tertatih-tatih” kita menjalani hidup yang berat di tengah dunia yang kejam. Dunia tidak peduli dengan keadaan kita, ia memaksa kita untuk tetap senang dan tidak memikirkan masalah. Namun sebenarnya, masalah itu masih ada dan terus menggerogoti siang dan malam. Inilah yang terjadi pada Raja Daud.
Suatu kali Daud mengalami kesesakan yang sangat berat. Ia tidak memberi tahu dengan jelas kesesakan apa yang tengah dihadapinya, ia seolah memberi ruang bagi kita untuk meletakkan kaki kita di sepatunya. Di tengah kesesakannya itu ia menggubah sebuah mazmur yang mengutarakan semua kekecewaan, ketakutan, dan penderitaannya. Hari ini Daud mengundang kita untuk masuk ke dalam pergumulan beratnya melalui Mazmur 13, sebuah mazmur ratapan.
Daud memulai ratapannya secara “to the point” dan dengan tegas menyatakan perasaannya yang terdalam, “Berapa lama lagi Tuhan Kaulupakan aku, selamanya? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” (ay. 2). Daud yang dikenal gemar memuji Allah kali ini bukan dalam keadaan yang penuh iman dan bersuka karena Allahnya. Ia sedang mengacungkan tangannya terhadap Allah dan berteriak sambil mencucurkan air mata. Allah yang dahulu menolongnya menghadapi binatang buas, kini meninggalkannya dalam kelemahan. Allah yang dahulu menyertainya ketika berhadapan dengan musuh-musuhnya, kini meninggalkannya sendirian dalam ketakutan dan kegelapan yang paling kelam.
Daud mengatakan bahwa Allah telah melupakan dan menyembunyikan wajah-Nya. Wajah Allah melambangkan kehadiran Allah yang membawa berkat dan pertolongan. Ketika Daud tak kunjung melihat wajah Allah, ia merasa Allah berlambat-lambat dalam menolongnya atau bahkan menolak untuk menolongnya. Oleh karena itu Daud berseru, “Berapa lama lagi Tuhan? Selamanya?” Di satu sisi Daud masih menanti dan menanti, di sisi lain hatinya mulai ragu tatkala melihat tangan yang Mahakuasa berubah. Allah mendiamkannya. Jiwanya dipenuhi konflik antara realitas dan iman. Imannya mengatakan untuk tetap menanti pertolongan Tuhan, namun realitas berkata lain: “Allahmu telah meninggalkan engkau!”
Penderitaan yang Daud alami kini memasuki area yang lebih dalam. Ia bukan hanya menderita tekanan dari luar tetapi jiwanyapun tersiksa. Dengan pilu Daud berkata, “Berapa lama lagi aku harus merasakan kesakitan di dalam jiwaku, kesedihan di dalam hatiku, siang dan malam. Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?” (ay. 3).
Setelah Daud meratap bahwa Allah telah mengabaikan dan melupakannya, ia terduduk dalam keputusasaan. Mulutnya terkatup. Hatinya sakit bagaikan disayat-sayat belati. Penderitaan Daud tidak berhenti di situ. Ia berkata bahwa ia merasakan penderitaan psikis siang dan malam, alias setiap saat! Ia merasakan ketidakmampuan dalam menghadapi masalahnya, musuh-musuhnya berkuasa atas dia, dan Allah? Allah, satu-satunya Penolong yang dapat diandalkan diam seribu bahasa.
Pernahkah Saudara mengalami pergumulan yang Daud alami? Pernahkah Saudara disudutkan dari berbagai sisi, rekan-rekan kerja Saudara bersepakat untuk menjerumuskan Saudara, teman-teman dekat Saudara tidak mampu menolong dan yang lain terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Satu-satunya harapan Saudara terletak pada atasan Saudara yang bisa menolong dan membela. Ia yang tahu bahwa Saudara tidak bersalah. Tetapi alih-alih membela Saudara, ia malah melepaskan diri dari masalah dan menolak untuk ikut campur. Bagaikan seorang dokter yang paling ahli untuk mengobati penyakit Anda, tetapi alih-alih memberikan resep obat dan memberikan perawatan, ia menutup pintu dan menolak untuk menolong Anda. Ia meninggalkan Saudara ketika Saudara paling membutuhkan pertolongannya.
Inilah yang Daud alami, pada saat-saat kritis ketika Daud paling membutuhkan kehadiran Tuhan, Ia malah menghilang tanpa jejak, tidak menolong, bahkan meninggalkan Daud sendirian. Oleh karena itu ia berseru, “Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku, selamanya? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” Oh, betapa mengerikan keadaan ini. Apabila Allah saja tidak menolong, siapa yang mampu menolong?
Bertanya atau mempertanyakan Allah merupakan hal yang lazim dalam tradisi Israel kuno. Dalam Kejadian 4, Kain bertanya pada Allah, “Apakah aku penjaga adikku?” (Kej. 4:9). Abram menjawab Allah yang berjanji dengan mengajukan pertanyaan, “Apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu” (15:2). Dan dalam kitab Ayub, dicatat Ayub mempertanyakan Allah mulai dari pasal 3 dan tidak berhenti hingga di pasal 38 Allah akhirnya menampakkan diri padanya.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bukanlah permintaan sederhana untuk mencari tahu sebuah informasi melainkan sebuah ekspresi keraguan yang mendalam. Mereka perlahan-lahan mulai meragukan karakter dan aktivitas Allah serta dampaknya pada hidup manusia. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan produk dan respons terhadap pengalaman the hiddenness of God, Allah yang menyembunyikan diri-Nya. Terlebih lagi, Ia berdiam diri, menolak untuk hadir dan bertindak sebagaimana diharapkan manusia.
Bukannya informasi, pertanyaan-pertanyaan ini menantikan kehadiran ilahi di tengah kesesakan yang menimpa. Pertanyaan-pertanyaan ini menantikan tindakan nyata dari Allah. Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan iman seseorang yang masih menantikan Tuhan tatkala pilar-pilar kepercayaannya mulai digoyahkan oleh pengalaman-pengalaman yang menyakitkan. Pertanyaan-pertanyaan ini menjaga seseorang tetap waras di tengah segala tekanan berat yang menimpanya. Dalam keadaan seperti ini, Asaf, pemazmur lainnya, juga bertanya-tanya,
“Untuk selamanyakah Tuhan menolak
dan tidak kembali bermurah hati lagi?
Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya,
telah berakhirkah janji itu
berlaku turun-temurun?
Sudah lupakah Allah menaruh kasihan,
atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya
karena murka-Nya?”
Maka kataku: “Inilah yang menikam hatiku,
bahwa tangan kanan Yang Mahatinggi berubah.”
(Mzm. 77:8-10)
Selain Daud dan Asaf, di bagian dunia yang lain pada masa yang lain ada seorang yang pernah mengalami hal tragis dalam hidupnya. Ia adalah seorang pengacara dan dosen hukum di Chicago yang sukses dan terkenal. Ketika menginjak usia 40, karirnya menanjak, ia menjadi kaya raya dan menanam investasi yang sangat besar pada bisnis real estate di pusat kota Chicago. Namun satu bulan kemudian terjadi kebakaran besar di kota itu dan rumah-rumah di tepi sungai Michigan, tempatnya menanam modal, hangus terbakar tak bersisa padahal belum lama sebelum kebakaran tersebut, sang pengacara baru saja kehilangan putranya. Tidakkah hatinya menjerit? Tetapi penderitaannya belum berakhir.
Dua tahun setelah kebakaran, pengacara yang adalah seorang Kristen yang melayani ini merencanakan sebuah perjalanan ke Eropa bersama keluarganya. Ia hendak menyusul pendetanya yang pergi untuk melayani dan mengajak serta keluarganya untuk berlibur di Eropa. Ketika mereka hendak berangkat, tiba-tiba seorang rekan bisnis menghubunginya dan meminta agar ia menyelesaikan transaksi bisnisnya yang tidak dapat ditunda. Akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di Chicago beberapa hari dan menyusul dengan kapal yang berikutnya.
Keluarga pengacara ini berlayar di atas kapal pesiar megah yang bernama Ville du Havre. Pada tanggal 22 November kapal ini dihantam kapal Inggris, Lockhearn, dan tenggelam seketika dalam dua belas menit. Sembilan hari kemudian, ia menerima telegram dari istrinya yang saat itu berada di Wales yang berisi, “Saved alone”, “selamat sendiri.” Keempat putrinya yang turut berlayar tewas tenggelam di tengah laut.
“Di mana Allah ketika kebakaran terjadi? Di mana Allah ketika putranya sekarat? Di mana Allah ketika anak dan istrinya menjerit minta tolong di tengah lautan? Di mana Allah ketika keempat putrinya kehabisan napas dan merasakan paru-parunya terbakar karena kehabisan oksigen? Di mana Allah? Apa yang Ia sedang lakukan? Mengapa semua ini terjadi?” Mungkin ini juga seruan yang keluar dari mulut kita ketika bencana menimpa, sakit-penyakit, musuh, atau kesesakan apapun menimpa, terutama ketika Allah seakan menghilang dan tak kunjung memberikan pertolongan.
Apabila saat-saat seperti itu datang dalam hidup Saudara, merataplah di hadapan Tuhan. Bawa semua kesesakan Saudara pada-Nya. Jangan tahan-tahan kepenatan yang Saudara rasakan, utarakanlah kepada Tuhan.
(Pada bagian ini, berhentilah berkhotbah untuk beberapa saat. Lantunkanlah musik yang tenang untuk mengiringi jemaat menyelami pengalaman hidup mereka yang berat dan penuh pergumulan. Berikan mereka waktu untuk merasakan kembali kesesakan yang tengah mereka alami).