Adegan 5: Kita juga bisa tetap segar di tengah kesesakan dengan kembali memohon kepada Tuhan
Apakah saat ini Saudara berada di “padang gurun” kesesakan? “Padang gurun” kehilangan orang yang kita kasihi, kegagalan dalam karier, ditinggalkan kekasih, dikhianati sahabat, sakit yang tak kunjung sembuh, dikeluarkan dari komunitas, vonis dokter, masa depan yang tidak jelas, dan serentetan penderitaan yang tidak akan habis disebutkan. Saudara, Anda dapat tetap bersukacita di tengah semua ini! Anda dapat menenggak kesegaran di padang gurun. Bawalah beban Saudara di bawah kaki salib Kristus dengan meratap dan memohon. Tuhan Yesus sudah menanggung semua derita kita. Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh (Yes. 53:5). Tuhan Yesus dapat melepaskan kita dari semua masalah kita. Yesus dan hanya Yesus. Ia telah mematahkan kutuk atas kita dengan mati di atas kayu salib menggantikan Saudara dan saya.
Saat ini, apakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan atau kelaparan atau ketelanjangan atau bahaya atau pedang? Dalam semuanya itu kita lebih dari pada pemenang. Sebab aku yakin, bahwa baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Rm. 8:35-39).
Saya ingin melanjutkan sedikit kisah dari pengacara yang kehilangan real estate-nya, seorang putra, dan keempat putrinya. Ketika berlayar dari New York untuk menjumpai istrinya di Inggris, sang kapten kapal memanggil para penumpang kapal dan berkata, “Berdasarkan perhitungan yang tepat, dalamnya laut di bawah Saudara adalah tiga mil dan saat ini kita berada tepat di titik di mana kapal du Havre bertabrakan dengan Lockhearn dan tenggelam.” Melihat pemandangan itu, sang pengacara yang bernama lengkap Horatio G. Spafford kembali ke kabinnya dan menuliskan lirik sebuah himne yang terkenal,
When peace, like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll;
Whatever my lot, Thou has taught me to say:
It is well, it is well, with my soul,
It is well, with my soul,
It is well, it is well, with my soul.
(Pengkhotbah menyanyikan lagu ini atau meminta seorang yang berbakat menyanyikannya)
Di tengah badai kehidupan, Allah adalah tempat perlindungan utama. Waktu Tuhan adalah sempurna, tidak terlambat, tidak terlalu dini. Sambil menunggu waktu penyelamatan Tuhan, marilah kita menanti sambil memuji Dia. Tinggikan anugerah-Nya, puji kebaikan-Nya, dan nyanyikanlah lagu bagi Tuhan yang layak diagungkan. Karena segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Flp. 4:13). Tuhan kita adalah Allah yang hidup, mampu menolong segala persoalan Anda, dan yang terpenting, Ia mengasihimu. Mari, bawalah pergumulanmu kepada Tuhan hari ini. Dengan meratap dan memohon pertolongan Tuhan, hati kita akan dipenuhi kelegaan dan sukacita bagaikan menenggak kesegaran di padang gurun.
Amin