Keluarga ini memang kehilangan sang ayah. Namun satu hal yang mereka peroleh yaitu bahwa mereka telah belajar memiliki iman yang bersandar penuh kepada Tuhan, termasuk menerima kehendak Tuhan yang memanggil pulang sang ayah yang sangat mereka kasihi.
Aplikasi
Saudara, dalam menghadapi pergumulan hidup, kadang kita pun bingung dan bertanya-tanya: “Mengapa kesulitan ini menimpa saya? Apa salah saya? Dosa apa yang telah saya perbuat sehingga saya harus menanggung penderitaan ini? Bukankah selama ini saya sudah setia melayani Tuhan, mengapa Ia membiarkan saya mengalami hal ini?” Saudara, memang sulit atau barangkali kita tidak akan pernah menemukan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan itu. Namun dari uraian di atas kita bisa melihat bahwa melalui berbagai penderitaan, Tuhan ingin supaya kita belajar bergantung padanya, percaya sepenuhnya kepada-Nya. Bukannya bergantung pada kemampuan diri sendiri atau orang lain, bukan juga bersikap pasif dan menyerah. Dengan pemahaman ini maka sebagai orang percaya seharusnya kita dapat memaknai setiap kesulitan itu sebagai sarana yang Allah izinkan dalam proses pertumbuhan iman kita. Dengan demikian, tentu kita tidak akan melihat kesulitan hidup sebagai sesuatu yang menekan dan menghancurkan kita. Sebaliknya dengan iman kita mengakui “bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).