Khotbah Perjanjian Baru

Perencanaan Orang Percaya

Akhirnya mereka melarikan diri. Pada saat di laut lepas mereka terkena badai, namun ternyata para pasukan komunis tersebut sangat ahli mengendalikan kapal sehingga mereka terbebas dari badai tersebut. Saudara, ketika kehendak Allah didahulukan dalam merencanakan masa depan, yakinlah bahwa itu adalah yang terbaik.

Saudara, di dalam menerima kehendak Allah dalam hidup kita, maka kita pun terbuka terhadap koreksi dari Allah akan perencanaan kita, yang memang rentan dengan kekeliruan. Mungkin kita memiliki banyak rencana pelayanan dan keluarga setelah kita lulus dari tempat ini. Mungkin kita berpikir bahwa dengan kemampuan kita yang baik maka kita akan dapat meraih sukses dalam pelayanan kita. Kemampuan berkhotbah kita yang baik akan memberikan nama besar dan jaminan dalam pelayanan kita. Kemampuan berorganisasi atau akademis kita akan mengamankan jabatan-jabatan tertentu pada masa depan kita. Pengalaman dan asam garam yang telah kita dapatkan selama hidup kita dapat menuntun hidup kita menjadi lebih baik. Tetapi bagaimanakah sikap kita ketika Allah mengatakan untuk “berhenti, cukup sampai di situ saja pelayananmu.” Bagaimanakah sikap kita apabila Allah mengizinkan organisasi yang kita impikan mengalami kegagalan? Masihkah kita mengatakan bahwa apabila itu adalah kehendak Allah, maka kehendak Allah jadilah? Marilah semenjak sekarang ketika kita merencanakan hidup ini, kita mengingat akan Allah. Kita merencanakan kehidupan kita bukan dengan kemampuan-kemampuan atau potensi, bahkan jaringan yang kita miliki. Namun kita merencanakannya dengan bergantung akan kedaulatan Allah yang akan membawa kita ke tempat yang paling diinginkan-Nya kita berada; bukan tempat yang paling kita ingin kita berada. Bukankah kita ini hamba yang bertugas melaksanakan kehendak-Nya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *