Ilustrasi
Saudara, ada seorang anak yang bertumbuh di dalam kekecewaan terhadap papanya. Bagaimana tidak, sejak kecil anak ini diperlakukan dengan sangat tidak baik oleh papanya. Dia sering mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan adiknya. Selain itu, tidak jarang perkataan yang kasar dan menghina keluar dari mulut seseorang papa yang diharapkan dapat menyayanginya. Tidak jarang pula sang papa memukul si anak walaupun usianya beranjak remaja. Kekecewaannya semakin meledak ketika seringkali ia melihat sang papa memukul mama yang berniat membela dirinya. Saudara, anak ini benar-benar bertumbuh di dalam kepahitan. Tetapi ada satu momen di mana kondisi ini berubah. Ini terjadi ketika untuk pertama kalinya sang papa memeluk anaknya dan mengatakan, “Maafkan Papa. Papa sudah terlalu banyak menyakiti hatimu.” Seorang papa yang keras diubahkan menjadi seoorang papa yang lembut. Seorang papa yang kasar diubahkan menjadi seorang papa yang penuh belas kasihan sehingga untuk pertama kalinya sang papa berkata kepada anak-nya ini, “Anakku, papa sangat sayang dengan kamu.” Dan sejak itu relasi Bapak dan anak ini dipulihkan. Saudara, ini adalah kisah nyata. Suatu kali saya bertanya pada anak ini, apa yang kau rasakan ketika papamu memeluk kamu dan meminta maaf atas semua kesalahannya? Dia menjawab, “Puji Tuhan, Yesuslah yang merubah papaku dan aku bersyukur karena sekarang papa benar-benar mengasihiku.” Saudara, perubahan dapat membawa dampak kasih terhadap sesama kita. Perubahan dapat menyuarakan sapaan kasih terhadap orang-orang di sekeliling kita.
Aplikasi
Saudara, lihatlah wajah orang-orang di sekitarmu. Bisa jadi dia adalah teman di sampingmu, teman di kamarmu, atau rekan pelayananmu, bisa juga dia adalah orang tua atau saudaramu yang ada di rumah. Jika kita TETAP di dalam kondisi suka berkata-kata kasar terhadap mereka, sanggupkah kita mengatakan bahwa kita mengasihi mereka? Jika kita TETAP di dalam kondisi benci dan kekecewaan terhadap mereka, sanggupkah kita mengatakan bahwa kita mengasihi mereka? Jika kita TETAP di dalam kondisi suka merendahkan mereka, sanggupkah kita mengatakan bahwa kita mengasihi mereka? Atau jika kita TETAP di dalam kondisi iri dan suka berselisih dengan mereka, sanggupkah kita mengatakan bahwa kita mengasihi mereka? Mari kita koreksi hati kita masing-masing. Adakah gaya hidup atau temperamen kita yang lama yang menjadi penghambat bagi kita untuk menjadi saluran kasih bagi sesama?
Penutup
Saudara, Tuhan sangat mengasihi kita. Dia tidak hanya menyelamatkan, tetapi membawa kita untuk mengalami perubahan hidup sehingga Dia memakai kita untuk menjadi saluran kasih bagi sesama kita. Bersediakah kita untuk meresponi panggilan Allah ini. Bersediakah kita membuka hati dan membiarkan Roh Kudus bekerja mengubah hidup kita setiap hari? Kiranya Tuhan mau menolong kita untuk menanggalkan yang lama dan menggantinya dengan yang baru dan menjadi berkat bagi sesama kita.