Khotbah Perjanjian Baru

Relasi yang Baik dengan Sesama, Wujud Ibadah yang Benar

Setiap orang yang mengambil bagian dalam perjamuan kudus tanpa mengakui adanya kesatuan dalam tubuh Kristus, atau dengan kata lain, tanpa mengakui relasi kebersamaan dengan orang percaya lainnya; orang2 inilah yang akan menghadapi penghukuman Allah.

 

Saudara, ketika kita beribadah termasuk mengikuti perjamuan Kudus, kita tidak hanya mengarahkan fokus kita secara vertikal kepada Tuhan, tetapi kita juga memperhatikan bagaimana relasi secara horizontal dengan saudara seiman lainnya. Saudara, dua hal ini saling berkaitan satu sama lain.

Namun saudara, dalam konteks pasal 11 ini, ketika Paulus mengatakan kita harus “menguji diri,” maka penekanan Paulus di sini lebih pada relasi secara horizontal dengan saudara seiman. Yaitu bahwa mereka harus memeriksa dan memastikan terlebih dahulu bahwa mereka mempunyai relasi yang baik dengan orang percaya lainnya. Dan hal ini harus ditunjukkan melalui sikap mereka yang mau berbagi dalam perjamuan kasih tersebut.

Penekanan Paulus tentang relasi horizontal ini, adalah hal yang sama yang juga ditekankan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 5:23-24,

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahuludengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”

 

Ilustrasi

Saudara-saudara, tanggal 12 januari lalu sebuah gempa berkekuatan 7.0 SR menggunjang Haiti (tunjukkan gambar). Hampir 90% bangunan runtuh, ratusan ribu orang meninggal, dan jutaan lainnya luka-luka. Pasca gempa ini, Haiti berubah menjadi negara yang sangat mencekam. Orang2 yang selamat justru terlibat dalam kerusuhan besar, kejahatan di mana-mana (lihat gambar berikut). Mereka saling berebut makanan dan minuman. Bahkan saling membunuh untuk bisa mendapatkan makanan. Saudara, ada satu gambar yang saya lihat. Di mana ada seorang yang dibakar hidup2 dan diseret ditengah kota. Saya tidak ingin menampilkannya di sini, karena sangat mengerikan saudara..

Haiti ini negara Kristen, 80% penduduknya beragama Kristen dan Katolik. Namun apa yang terjadi pasca gempa ini sangat memprihatinkan. Di tengah2 kesulitan yang menimpa mereka, mereka bukannya bersatu menghadapi musibah ini. Prinsip kasih yang selama ini mereka pegang, seolah2 lenyap begitu saja. Bukannya saling meringankan beban mereka, malah masing-masing berusaha cari selamat, mikirin diri sendiri.

Saya sangat memahami bahwa tentu bukan sebuah kondisi yang mudah bagi mereka. Mereka telah kehilangan tempat tinggal, keluarga yang dicintai, bahkan sekarang mereka pun terancam mati kelaparan. Namun, yang ingin saya soroti adalah sikap mereka yang begitu egosentris. Mereka tidak peduli dengan orang lain. Bukan saja tidak peduli dengan orang lain, mereka bahkan rela saling menghancurkan, saling membunuh demi kepentingan mereka sendiri. Di mana spirit of love, di mana spirit berbagi itu?

Saudara-saudara, hal ini berbeda sekali dengan yang terjadi di Jepang. Gempa dan tsunami yang telah memakan puluhan ribu korban. Kini yang masih hidup pun terancam bahaya radiasi nuklir. Radiasi nuklir telah mencemari makanan dan air minum, membuat beberapa wilayah di sana mengalami krisis makanan dan minuman. Namun saudara, di tengah-tengah kesulitan dan penderitaan yang mereka alami, orang Jepang tetap bersatu, dan saling memperhatikan.

Krisis pangan yang terjadi bisa saja membuat mereka panik dan kemudian memborong bahan pangan sebanyak2nya dan menumpuknya di gudang. Tapi mereka tidak melakukannya, mereka tidak mau memikirkan diri mereka sendiri. Spirit kebersamaan dan sikap peduli juga muncul ketika toko2 menjual bahan makanan dengan harga diskon.

Haiti dan Jepang kurang lebih mengalami musibah yang sama, penderitaan yang kurang lebih sama, namun sikap mereka dalam menghadapi kesulitan ini jelas sangat berbeda. Orang2 Haiti yang notabene orang Kristen, justru menunjukkan sikap yang tidak sesuai dengan iman yang mereka miliki. Sebaliknya orang jepang yang bukan Kristen, justru bisa menghidupi nilai2 kebersamaan, kasih dan saling peduli.

Saudara, bagian ini memang berbicara dalam konteks perjamuan kudus. Tapi saya rasa bukan berarti ketika kita mau mengikuti perjamuan kudus saja, kita memperhatikan hubungan kita dengan sesama. Seluruh hidup kita adalah ibadah kepada Tuhan, bukan hanya ketika kita ada gereja saja. Itu berarti menjaga relasi yang baik, yang ditunjukkan dengan sikap saling peduli, saling berbagi, saling memperhatikan, harus menjadi bagian yang integral dalam seluruh kehidupan kita.

 

Aplikasi

Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan kehidupan ibadah kita? Apakah kita juga telah sungguh-sungguh memperhatikan relasi kita dengan sesama, sebaik kita menjaga saat-saat teduh kita? Adakah kita sungguh-sungguh peduli terhadap teman-teman kita yang mungkin sedang mengalami kesulitan? Atau jangan-jangan kita berpikir, oh saya kan datang untuk belajar firman Tuhan, jadi urusan sosialisasi urusan nantilah… Nantilah kalau tugas-tugas saya udah beres semua, baru saya perhatikan teman-teman saya. Nantilah… ini kan high-season, nanti aja kalau udah agak longgar. Tapi bukankah setiap hari adalah high-season saudara?

Atau kita berkata, Nantilah kalau ga terlalu padat, semester ini kan padat bangat. Saudara, dulu waktu di semester satu saya merasa semester itu sulit sekali. Kini ketika berada di semester 6, saya tetap saja merasa ini semester yang sulit. Artinya apa saudara? Artinya setiap semester punya kesulitan sendiri-sendiri. Jika kita menunggu sampai punya waktu yang longgar baru kita memperhatikan orang lain, maka waktu itu tidak pernah akan datang.

 

Penutup

Saudara, ketika mempersiapkan bagian ini, saya teringat akan khotbah seorang pendeta yang mengatakan bahwa orang dunia punya prinsip “Jika-Maka,”  jika punya waktu, maka saya akan memperhatikan orang lain, jika saya tidak sibuk maka saya akan menolong orang lain. Namun bagi orang percaya prinsip yang dipegang adalah “Meskipun-Namun.” Meskipun saya semester ini padat, meskipun tugas-tugas saya masih belum selesai, meskipun saya sendiri lagi dalam kesulitan, meskipun saya sendiri sedang bergumul, Namun, saya tetap akan memperhatikan orang lain, Namun, saya akan tetap berbagi waktu saya yang sedikit ini dengan orang lain. Saudara-saudaramaukah kita mengambil komitmen untuk melakukan hal ini? Kiranya Tuhan sendiri yang akan terus mengingatkan kita dan memampukan kita untuk hidup sebagaimana Ia kehendaki. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *