Dalam tradisi Kristen, Gluttony dilawan dengan pembatasan (temperance), sebagaimana nafsu birahi dilawan dengan pengendalian diri (self-control). Jika pengendalian diri mengatur diri sendiri agar sesuai dengan citra dan fitrah kemanusiaan kita, pembatasan mengatur apa yang kita konsumsi agar sesuai dengan kapasitas fisik kita. Tidak lebih dan tidak kurang. Dan inilah inti dari doa Yesus, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya;” Yesus yang sama yang di atas salib berteriak di ujung batas hidup-Nya, “Aku haus” (Yoh. 19.28). Sang Air Hidup yang menawarkan kelegaan spiritual menghadirkan sosok kemanusiaan yang membutuhkan air (dan makanan) sekedar untuk memenuhi kebutuhan fisik-Nya. Dan dengan teriakan kehausan-Nya itu Ia mewakili umat manusia yang juga dahaga dan lapar karena kekurangan bahan pangan, sementara segelintir orang berpesta-pora tanpa peduli pada sesamanya.
Seri Tujuh Dosa Maut: Kerakusan
June 14, 2017