1. Ada pembagian talenta-talenta dan terjadi perbedaan dalam pengelolaannya
Penjelasan
Saudara, persoalan mengenai talenta ini bukanlah satu persoalan yang dianggap sepele oleh Tuhan Yesus. Ketika Yesus memberitakan kebenaran tentang kedatangan-Nya nanti yang kedua,issue mengenai talenta menjadi satu bagian penting yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya. Waktu itu Yesus ingin, saat Ia pergi, para murid dapat setia menggunakan seluruh talenta yang telah dipercayakan pada mereka. Yesus pun mengumpamakannya seperti seorang tuan kaya yang berencana untuk bepergian ke luar negeri dalam tempo yang cukup lama. Sang tuan ini kemudian memanggil ketiga orang hambanya dan mempercayakan hartanya untuk dikelola oleh mereka. Saudara, Yesus di sini sesungguhnya memberikan penggambaran yang sangat menarik. Setiap kita mungkin tidak merasa heran ketika mendengar cerita seperti ini. Namun, tidak demikian halnya kalau kita hidup di zaman dulu. “Mempercayakan harta kepada hamba” adalah sebuah kejadian yang tidak biasa dan tidak akan pernah didengar oleh siapapun juga pada saat itu karena kedudukan seorang hamba dianggap sangat rendah. Hamba di zaman dulu itu tidak punya kesempatan untuk memiliki sesuatu, bahkan atas hidupnya sendiri saja mereka tidak punya hak apa-apa. Seumur hidup, mereka adalah milik tuannya.
Karena itulah, kesempatan untuk mengelola harta milik sang tuan sesungguhnya adalah suatu anugerah dan kepercayaan yang luar biasa. Dan, kepercayaan yang tuannya berikan ini tidak main-main. Hamba yang pertama diberi lima talenta, hamba yang kedua diberi dua, dan yang ketiga diberi satu talenta, masing-masing menurut kesanggupannya. Saudara, talenta merupakan satuan mata uang yang terbesar di zaman itu. Seorang pekerja kira-kira harus bekerja 20 tahun untuk bisa mendapatkan satu talenta saja, itupun tanpa dipotong biaya makan dan biaya hidup lainnya. Jadi meskipun hanya mendapat satu talenta, jumlah tersebut bukanlah jumlah yang patut diremehkan dan lebih dari cukup bagi seorang hamba untuk mulai berusaha. Dapatkah Saudara bayangkan bagaimana kira-kira perasaan ketiga hamba ini ketika diberi kepercayaan untuk mengelola harta tuannya yang begitu besar?
Alkitab mengatakan bahwa hamba yang pertama dan kedua ini “segera pergi” untuk menjalankan uang tersebut. Frasa “segera pergi” di sini sesungguhnya merupakan bukti bahwa mereka tahu dengan jelas tanggung jawab besar yang telah dipercayakan tuannya dan mereka pun langsung berusaha mengerjakannya tanpa ditunda. Kedua hamba ini tidak hanya duduk berlipat tangan sambil menunggu keuntungan datang kepadanya, namun mereka sungguh-sungguh berusaha keras melangkahkan kakinya mencari keuntungan. Dan benar saja, jerih payah mereka tidak sia-sia. Kedua hamba ini dikatakan berhasil menggandakan uangnya serta meraih keuntungan sebanyak 100%.
Namun, hal ini kontras sekali dengan apa yang dilakukan oleh hamba ketiga. Hamba yang memperoleh satu talenta ini lebih memilih untuk pergi dan menggali lobang di dalam tanah, lalu menyembunyikan uang tuannya di sana. Saudara, kita memang tidak tahu apa yang menjadi alasan di balik semua tindakannya itu. Alkitab sendiri pun tidak pernah memberikan gambaran yang jelas mengenai motif dari tindakannya. Akan tetapi satu hal yang dapat kita ketahui bersama adalah bahwa menurut hukum rabinik pada zaman itu, tindakan menguburkan talenta merupakan tindakan yang dinilai paling aman untuk menghindari kerugian. Jadi kalau mau dipikir secara logis, tindakan menguburkan talenta sebenarnya adalah tindakan paling tepat yang dapat ditempuh seseorang untuk membebaskannya dari kerugian yang mungkin terjadi. Uang yang telah dipercayakan oleh tuannya ini tidak akan berkurang sedikitpun. Tetapi yang menjadi permasalahannya adalah apakah itu yang dikehendaki oleh tuannya? Saudara, sebenarnya pembagian talenta ini dimaksudkan agar para hamba dapat bekerja bagi tuannya, dan bukannya berdiam diri seperti ini. Pembagian talenta dimaksudkan untuk memampukan hamba ini meningkatkan keuntungan tuannya, dan bukannya dikubur tanpa memperoleh keuntungan sedikit pun.
Ilustrasi
SS, beberapa waktu yang lalu seorang rekan saya bercerita dengan antusiasnya bahwa sekarang ia telah memiliki sebuah handphone yang baru. Dengan wajah sumringah ia berkata, “Kamu tahu gak kalo handphone ini tuh adalah handphone yang sudah lama kuidam-idamkan! Modelnya baru dan keren banget!” Pada waktu itu saya benar-benar senang ketika mengetahui bahwa impiannya untuk memiliki handphone ini akhirnya terkabul juga. Kemudian saya pun bertanya pada dia, “Memangnya di handphone-mu itu ada fasilitas apa aja seh?” Kemudia dia menjawab, “Wahhh buaanyyaaaakkkkkk! Semua bisa, lengkap deh pokoknya, namanya jugahandphone canggih!” “Berarti kamu uda bisa facebook-an dari handphone-mu dong?” Dengan muka memerah dan tersenyum lebar dia berkata, “Nah itu dia masalahnya, gue kagak tau cara pakenya!! Hehehe, ajarin dong!” Oh Saudara, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, handphone yang begitu canggih, yang dilengkapi dengan fasilitas kamera, MP3, internet, face-book, e-mail, menjadi sia-sia karena hanya digunakan sebatas telepon dan sms! Sungguh sangat disayangkan bukan? Seluruh fitur canggih pada handphone tersebut akhirnya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya hanya karena pemilik HP tersebut tidak berusaha untuk menggunakan dan mengoptimalkannya.
Aplikasi
Saudara-Saudara, mungkin kita saat ini bisa tersenyum-senyum geli ketika mendengar kisah “kegaptekan” rekan saya ini. Tapi bukankah kalau mau jujur, kita pun seringkali “gaptek” di dalam mengenali talenta-talenta yang telah Tuhan percayakan pada kita? Atau mungkin juga ada diantara kita yang sudah tahu apa talenta-talenta kita, namun belum menggunakannya secara maksimal? Harus saya akui, saya pun pernah menjadi orang yang seperti ini. Jangankan berusaha untuk mengembangkan talenta yang saya miliki, menggunakan pun rasanya sangat jarang. Bahkan saya juga sempat tidak mengetahui apa yang menjadi talenta saya. Namun saya kemudian disadarkan bahwa sesungguhnya talenta yang telah Tuhan percayakan itu bukan untuk disimpan, namun harusnya dipakai dan dikembalikan bagi kemuliaan Tuhan. Hal ini pula yang Tuhan mau dari setiap engkau, Saudara, sadarilah bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan pada kita mutiara talenta yang begitu berharga, yang sesuai dengan kapasitas dan panggilan kita di dunia ini. Ada yang diberi talenta berbicara di depan audience, menyanyi, memimpin pujian, bermain drama, menggambar, fasih dalam berbicara, dan masih banyak lagi. Ada pula diantara kita yang dipercaya lima, dua, atau mungkin hanya satu talenta. Namun, apapun jenisnya dan berapapun jumlah talenta yang dipercayakan, kita tetap harus sungguh-sungguh menemukan, mengolah, dan menggunakannya bagi kemuliaan Tuhan serta menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.
Dan ketahuilah Saudara bahwa setiap keputusan yang kita ambil, entah itu setia dalam mengelola talenta yang telah Tuhan percayakan maupun mengabaikannya begitu saja, sesungguhnya akan membawa kita pada suatu konsekuensi…