Tetapi saya mengerti tidak mudah bagi kita memahami dan menghidupi pemahaman tentang kelahiran kembali ini. Tidak semua orang mau menyambut undangan Allah: menerima kelahiran kembali di dalam hidupnya. Saya mencoba merenungkan beberapa hal yang sering menjadi kendala seseorang menyambut kelahiran baru tersebut:
- Kebanyakan kita menganggap diri kita sebagai “orang baik” dibanding dengan orang lain di sekitar kita. memang kita masih berbuat dosa, tapi masih lebih kecil ketimbang yang orang lain lakukan (ilustrasi saat ditilang polisi, masih membandingkan dengan orang lain). Ada orang yang juga berusaha agar selama hidupnya menjadi orang baik yang tidak menyusahkan orang lain. Selama kita merasa telah menjadi “orang baik” maka selamanya kita tidak akan pernah bisa menyambut undangan Allah untuk mengalami kelahiran baru.
- Ada juga orang-orang yang enggan menerima kelahiran baru karena melihat konsekuensi yang dihadapi, terutama penolakan secara sosial sampai kepada penganiayaan. Semua kesulitan bisa datang, baik dari orang non Kristen tetapi juga oleh sesama orang Kristen juga.
- Tidak jarang orang-orang menolak undangan kelahiran baru karena lebih memilih undangan dunia ini. Contoh dalam Alkitab yang jelas, saat Tuhan Yesus didatangi seorang anak muda yang kaya raya. Hatinya digelisahkan oleh pertanyaan: Bagaimana saya mendapatkan hidup kekal? Tuhan sangat tahu pergumulan itu, karenanya Ia memberi nasehat sederhana saja: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Matius 19: 21). Dia berhadapan dengan 2 pilihan sulit dan tidak gampang. Tetapi dengan sangat sedih, ia berbalik dan lebih memilih mempertahankan hartanya.
Sebenarnya ada banyak lagi alasan mengapa seseorang menolak menerima undangan Allah tersebut. Tetapi pada prinsipnya ada 2 hal yang perlu kita pahami dengan jelas: