Karena kekuatiran hanya menambah persoalan (ayat 34)
Kata “kesusahan” (ayat 34b kakia) secara hurufiah berarti “buruk,” sehingga dapat merujuk pada segala sesuatu yang tampak tidak baik, misalnya kesusahan atau persoalan. Hal ini mungkin terjadi setiap hari. Allah tidak pernah berjanji untuk memberikan kehidupan yang tanpa tantangan dan kesulitan. Ia hanya berjanji bahwa Ia mengetahui dan memenuhi kebutuhan kita.
Dengan menyadari bahwa setiap hari memiliki kesusahannya sendiri, kita tidak sepatutnya menguatirkan hari besok. Hari besok mempunyai kesusahannya sendiri (ayat 34a). Menguatirkan hari besok adalah sebuah kebodohan. Pada saat kita kuatir tentang hari besok, kita sebenarnya sedang menambah persoalan. Kesusahan besok telah ditambahkan pada kesusahan hari ini. Semakin banyak hari di depan yang kita kuatirkan sekarang, semakin banyak pula kesusahan kita sekarang.