Apa yang diajarkan Tuhan Yesus di 6:25-34 tentu saja tidak berarti bahwa kita tidak perlu memikirkan kebutuhan sehari-hari. Memikirkan sesuatu berbeda dengan menguatirkan hal tersebut. Kuatir berarti menaruh perhatian yang berlebihan pada sesuatu sampai orang tersebut gagal menaruh keyakinan dan pengharapan yang sepantasnya pada Allah (ayat 30 “hai orang yang kurang percaya?”).
Teks ini juga tidak melarang kita untuk bekerja keras bagi kebutuhan kita atau mempersiapkan masa depan. Allah seringkali memenuhi kebutuhan melalui kerja keras dan perencanaan hidup yang baik. Kita tidak boleh menyelubungi kemalasan dalam bekerja dan merencanakan hidup dengan jargon-jargon rohani seperti “berserah penuh pada Allah” atau “tenang dalam pemeliharaan Tuhan”.